Attitude for Order

Sebenernya nih, gue suka gak suka nyobain kafe baru. Kenapa? Soalnya mereka sering bikin menu yang namanya aneh-aneh dan gak jelas bahannya apaan, ya ala ala gitu lah menunya. Itu bikin gue bingung apa lagi kalo gue lagi laper, kan kesel juga kalo musti milih makanan, namanya aneh, terus gak enak. So then, yang selalu gue lakukan ketika datang ke kafe ato resto baru;

‘Mba/Mas, yang enak apa ya?’
Banyak dari waiters yang bingung kalo ditanya kaya gini. Jawaban paling familiar dengan pertanyaan ini adalah ‘aduh mba, saya kurang tau nih, kebetulan saya baru’ atau malah balik nanya ‘mba maunya apa?’. Ya elah bo, gue juga nanya ke elo lah ko lo malah nanya balik? Sebenernya maksud gue nanyain kaya gini adalah karena pada dasarnya (menurut gue) seorang waiters itu jadi sort of like tombak bagi resto itu kan, mereka yang berinteraksi langsung dengan pelanggan mereka, secara tidak langsung (menurut gue lagi) mereka harus bisa memberi preferensi makanan yang dianggap terbaik, mereka harus menguasai menu favorit bukan berdasarkan legenda yang ditaruh di buku menu dengan lambang topi koki. Even tho mereka baru, seharusnya manager membekali mereka dengan pengetahuan sajian terbaik di resto mereka.
Suatu kejadian pernah gue alami waktu malam minggu, gue nyoba salah satu bar and resto yang selalu gue lewatin tapi baru pertama kali gue coba. Lokasinya ada di daerah Dayang Sumbi, Bandung. Malem itu gue laper banget dan kalo gue laper biasanya gue gak bisa mikir, so then gue bilang ke mas waiter
‘Yang enak apa?’ Dia balik bertanya gue mau makan apa, gue kasih pertanyaan yang sama, ‘yang enak apa? saya mau apa aja yang enak’. Mas waiter itu lalu bilang kalo dia baru kerja disana, jadi kurang tau dan minta izin buat manggil rekannya yang lain. Dateng lah yang lain, gue ngasih pertanyaan yang persis sama dan dengan persis dia juga menjawab seperti rekannya, ‘Mba-nya mau makan apa?’ gue jawab lagi ‘ya yang enak aja’. Dia nyaranin antara steak atau spagetti, gue bilang ‘mau spagetti yang enak’ lalu gue tutup buku dan dia nanya ‘spagetti apa mba?’ gue jawab ‘yang mana aja, yang penting enak’. lalu dia panik dan pergi, manggil store manager. Store manager dateng ke meja gue sambil bertanya ‘Mba-nya tadi pesen apa ya?’ gue jawab lagi bahwa gue tadi pesen apa aja yang enak. Store manager nanya lagi ‘Mba pesen spagetti apa tadi?’. YA OLLOH MAS. Gue jawab lagi, apa aja asal enak. Lucunya respon seorang store manager-nya adalah
‘Tapi pasti di makan kan?’
which menurut gue sangat aneh. gue jawab dengan ‘Makan mah ya gatau, liat nanti, tapi yang pasti saya bayar’ dan untungnya yang nyampe spagetti enak (dan menurut gue semua makanan disana enak, tapi service nya sangat buruk).
Ketika makanan sampai di meja, sebenarnya itu hak pelanggan mau diapain, yang penting bayar. Gak juga sih, ya sort of. Yang pengen gue bahas disini adalah, (menurut gue lagi ya) at least seorang waiters bisa memberi preferensi, baik itu yang ada di menu atau dia sendiri. At least dia harus pernah nyobain makanannya dan dia suka, kalau gak enak dan pelanggannya marah ya seharusnya bisa jawab
‘Ini preference saya, kalau tidak suka mungkin taste kita berbeda’ dengan baik-baik.
Lucu lagi, hari ini gue pergi nemenin temen gue di satu coffee shop di Dago bawah. Seperti biasa gue melakukan hal yang sama since gue belum pernah ke tempat ini sebelumnya. Gue duduk di Bar sambil nanyain apa yang enak, yang mengejutkan adalah bagaimana bartender, barista, dan waiter deket saya berantem tentang apa yang paling enak. Gue udah pesen Radler, gue pengen kopi (ya tau ini aneh), waiter bilang Macchiato itu enak banget dan strong, sama seperti apa yang gue minta, strong coffee. agak pricey, 35k tapi dengan porsi segede gelas bir. Barrista nyaranin cafe latte dan Bartender mau bikinin gue espresso double shot yang strong. Lalu mereka berdebat sekitar 3 menit sampai gue bilang ‘yaudah yang mana aja lah yang penting enak’. Lalu Caramel Macchiato datang ke meja gue dan enak, selamat buat Waiter yang memenangkan lomba debat kopi enak!
Well, beberapa dari temen gue agak kesel sebenernya dengan kebiasaan gue yang kaya gini. Dibilang nyusahin Mba/Mas nya buat take order, tapi sekali lagi buat gue ini tuh macem cara gimana seorang pekerja juga tau mereka ada dimana, maksudnya mereka yang well ‘harus mengenal’ pelanggan mereka, karena mereka adalah perawat yang berhubungan langsung dengan para pelanggan dimana buat gue service adalah segalanya, lo pikir kenapa Starbucks yang rasa kopinya macam Torabika lebih laku dari pada warkop deket pos hansip yang jual Torabika sachet-an? Kalo di Starbucks dateng-dateng di welcome-in, di roast pake illy, di tanya ‘atas nama mba siapa?’ lah kalo di warkop, elah, ngaduk kopinya aja pake sachet kopinya, ya kali.
(Featured image taken from Google)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: