So Where Is Home

Ketika masuk kuliah banyak sekali pertanyaan yang isinya bertanya dari mana asal kita. Semudah ‘lo dari mana’, ‘asal sma lo dimana sih?’ dan berbagai pertanyaan berbasis ‘mana’ dikeluarkan. Jujur gue gak pernah bisa menjawab pertanyaan semudah itu, it would have been easier if this question come when i was studying abroad. Jawabannya mudah kalau seperti itu, ‘datang dari mana?’ gue jawab ‘Indonesia’ karena memang benar gue orang Indonesia dan gue bangga menjadi warga negara. Tapi ketika kamu berada di Indonesia, lucu kalau dijawab ‘gue dari Indonesia’ (because we are all indonesian) tapi itu yang selalu gue jawab ketika Indonesian bertanya dari mana gue berasal.

Kenapa? Karena pada dasarnya menurut gue asal itu sangat ambigu, setidaknya bagi gue. Asal sebenarnya berarti keadaan semula, keadaan sebelum sekarang ini, pangkal, permulaan. Tapi membaca definisi ‘asal’ saja sudah ambigu. Asal bisa berarti ras yang artinya genetik dari darah orang tua turun temurun, asal juga bisa berarti dari mana kalian beranjak besar, asal juga mungkin tempat dimana lo tinggal sebelum pindah kuliah disini. Beruntung tidak beruntung bagi mereka yang menghabiskan let’s say 18 tahun di kota yang sama sebelum pindah ke Bandung atau mereka yang jelas punya nama marga sebagai nama belakang mereka layaknya keluarga jawa atau batak. Beberapa orang bilang ‘home is where your heart is’ sayangnya gue juga gak tau dimana hati gue berlabuh.
I was born in Bandung, raised in many cities and been traveling since in a very young age. Gue emang tinggal di Bogor sepuluh taun, main di Jakarta, bolak balik Bandung atau Singapur sepanjang sepuluh taun tersebut dan lalu pindah ke Bandung. Kalau diitung udah nyaris enam tahun disini tapi masih ngerasa ini bukan home gue. Bokap nyokap gue lahir dan besar di Bandung, bahkan mereka sendiri gak mau bilang Bandung sebagai ‘home’ mereka. Bokap pernah bilang ke gue ‘i have never actually think of coming back to this town when i moved out’. Sekarang bahkan gue ngerasa gak tinggal di home, gue tinggal di eks-rumah nene gue which means bukan rumah either bokap dan nyokap. Makin hari gue makin mempertanyakan identitas dari mana gue berasal. Gue sering dibilang anak Jakarta sama nyokap gue; ‘da kamu mah bukan orang Bandung,’ she said. Tapi gue sendiri ngerasa bukan orang Jakarta.
Belakangan ini gue sering cerita ke bokap gue tentang dimana mereka mau menghabiskan masa tua. Bokap gue biasanya cuman ketawa doang, then gue tau sesuatu yang bikin gue merasa sedih soal rumah. Bokap cerita, when he left Bandung in 1995 he actually never wished to comeback or even kembali untuk pulang di masa tua. He built this one house in Bogor for eternity, he picked his own wood and other interior, biasa lah seniman. Everything is the finest. Then one unexpected thing happened in 2006 dimana kakek gue sakit parah dan bikin bokap musti bolak-balik Bandung, in one point satu-satunya anak yang care adalah bokap gue, sisanya either too far or careless. 2009 gue fixed pindah ke Bandung. Anak didikan gaul ibu kota yang main ke tanah sunda, gue dicap jadi anak yang sombong karena gaya bahasa gue yang udah pake ‘gue-elu’ pas dede-dede lainnya masih pake aku-kamu ato aing-maneh, cara jalan gue yah banyak deh. Bersyukur gue punya temen yang sampai sekarang masih berteman, seven years and going stronger. Sebagai dedek-dedek yang masih terima apa adanya, gue belum merasakan rumah. Tapi ketika kuliah dan mulai banyak mau gue mulai merasakan ketika gue pulang ke rumah gue yang di Bandung abis dari kampus, gue lebih merasa pulang ke kos-an dari pada ke rumah. Gue gak bisa sembarang pulang malem, naro mobil di garasi, pake baju lekbong di rumah gue sekarang. Soalnya itu technically itu bukan rumah orang tua gue. Keluarga gue yang dasarnya independen juga mulai mempertanyakan keberadaan home. Seiring berjalannya waktu, bokap gue sering cerita tentang rumah yang di Bogor sehingga lama kelamaan gue merasa Bogor adalah home buat gue. Sayangnya, ketika gue pindah ke Bandung, bokap gue dengan agak tidak rela akhirnya menjual rumah dimana gue tumbuh. Mulai dari sana gue merasa gue benci dengan Bandung karena gue rasa pindah ke Bandung udah ngambil rumah gue. Mungkin nanti gue akan cerita tentang love and hate relationship gue dengan kota ini.
Seperti rumah yang menjadi semakin rumah ketika di tinggalkan, begitulah cinta. menjadi semakin cinta sesudah hilang
Begitu kata Putu Wijaya. Ketika gue pulang ke Bogor gue mendatangi home tanpa rumah. Dan sedikit perasaan sakit di dada ketika lewat rumah masa kecil. Ketika lo pulang ke rumah bayangan masa kecil sudah dibeli dengan harga satu milyar. Murah sekali ya sepuluh tahun itu?
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: