Cocktail Race and Religious Feast

WARNING: SENSITIVE CONTENT

Kalo gampang emosi baca tulisan berbau SARA mening gausah baca ya.

Halo sudah lama sekali ya udah gak nulis di Blog. Maafkan ketidak konsistenan gue dalam mengelola terlalu banyak media sosial, so far memang ask.fm yang paling menyenangkan. Di tulisan ini gue akan membahas soal kebingungan suku di diri gue.

Ok, so basically i’ve been asking “gue tuh sebenernya keturunan apa sih?”. Gue sering dibilang cina sama orang pribumi, macam stereotype orang gak pernah liat cina aja gitu, cuman karena gue punya mata kecil. Gue sering ngaca dan menyakini diri kalo gue agak cina. Tapi ketika gue dateng ke acara gereja di depan rumah gue (yang umatnya emang cina-indo dan keturunannya) gue merasa sangat tidak cina. I’m too Chinese for Indonesian and to Malay for Chinese. Masuk kuliah gue bertemu dengan banyak orang Jawa dan Batak, growing up believing my dad came from Magelang (since we do nyekar every years during period of 2004-2008 to “makam keluarga”) i feel like having that Javanese blood, turned out i’m nothing physically or culturally close with Javanese later then i know my dad is not Javanese. I have a pretty strong jawline for a girl living in Bandung, even my professor thought i was Batak girl named Grace Ambarita but meeting more Batak people made me realised that i don’t actually looked like hard Batak -slap me in the face- face, it’s my cina all over again. All i know that my mom was a Sundanese but i was wrong. This actually left confusion for me, like what race am i?

Then last Sunday i walked through races charts at National Meuseum, i was trying to fit my face with ancestors face that were displayed. I asked Haru, “Muka gue masuk kemana sih?”.Haruka simply answered “Lo cocktail race, keknya masuk ke banyak.” I like the idea of cocktail race in me. Later on the next day i asked my mom. She said her father came from Baduy, meaning He’s a Kanekes, her mom is pure Sundanese. Apparently my dad is also a cocktail, his father was Betawi-Madura raised in Jogja and his mother was a chinese (DAMN IT) descent, Cirebon-Bali in culture. Now tell me i’m not a very damn bitter cocktail.

Sebenernya bukan masalah cocktail race yang mau gue bahas dalem tapi soal pencampuran kultur yang gue alami sampai hari ini. Live event snapchat hari ini adalah Eid al-Fitr, snap nya rame banget. Gue liat snap di Jakarta isinya orang shalat eid, makan opor, mudik, bagi-bagi thr dan hal lain yang umum dilakukan saat lebaran, Gue juga merayakan lebaran tahun ini, sama seperti tahun tahun sebelumnya. Having a cocktail race give you experience of celebrating a lot of religious feast. Tapi masalahnya gak ada yang dalem a.k.a meaning full. Well it could be meaning full for my family members but simply not for me.

Sejak pindah ke Bandung gue gak pernah merasakan mudik. Masalah lainnya adalah gue juga gak tau mau mudik kemana. Jakarta was not my home town, I lived in Bogor 12 years but none of family members live there, and Bandung was never a home for me. So, point one in “Pengalaman Berlebaran” is an X, never go mudik. Poin ke-2; sungkeman; nothing special, i did say sorry when i made a mistake and i hug&kiss my parents so…. You got me? Poin ke-3, makanan khas lebaran macam opor, sop buntut, rendang, ketupat, etc adalah makanan biasa aja. Gue makan opor, sop buntut, rendang, bahkan ketupat gak cuman pas lebaran. Hal ini juga gak cuman pas lebaran, hari raya lain kaya Natal, Galungan Kuningan, Paskah, dsb jadi biasa aja. We celebrate too much every celebration is just personal. Gue ngomongin lebaran ya karena ini lagi lebaran aja sih. Kalau ditanya gue agamanya apa, yang pasti gue punya satu agama dan satu Tuhan, gue hanya ikut membantu acara makannya saja, untuk upacara gue hanya ikut upacara agama gue (just to make clear i’m not having more than one religion). Oh ya dan gue beragama btw kalo kalian kepo.

Jadi, initinya semakin lama, feasts ini menjadi sangat personal. Antara gue dan Tuhan saja. Kaya yaudah gue abis berdoa sama Tuhan, terima kasih atas berkat dan rahmatMu kepada kami dsb terus beres udah gitu aja, padahal feast juga seharusnya menjalin hubungan sesama manusia. Take this case, dalam islam gue tau ada yang namanya konsep menjaga tali persaudaraan, nenek gue bilang tiap lebaran kita harus ketemu sama sodara jauh untuk minta maaf. Selain untuk menjaga tali persaudaraan, ketemuan juga untuk maaf-maafan seperti yang umum dilakukan saat lebaran. Tapi menurut gue untuk apa kita salaman bilang “minal aidin” ke saudara yang bahkan kita gak gatau dia siapa, emang kita pernah buat salah apa sama dia? Like men i don’t even know you, menurut gue ya harusnya maaf-maafan tuh ke saudara senenek aja sih udah. Ya ya hate me on this tapi ini menurut gue ya, jangan marah. Tapi nyokap gue ngasih alasan lebih relevan, ketemu sodara pas lagi lebaran salam-salaman adalah pencegahan supaya kita gak macarin sodara. Yep, ini kejadian sama sepupu gue yang agak ansos gak penah dateng ke acara lebaranan, dia punya pacar taunya sodara sepupu dan masih sedarah. Padahal udah 7 tahun pacaran dan mau tunangan. That was sad. Di lain sisi, keluarga nyokap gue udah banyak yang meninggal, apalagi yang tua tua. Yang bikin suasana lebaran jadi lebaran sewaktu gue kecil. Kaka adik nene gue yang selalu masak heboh dan ngatur kostum lebaran dan gaya foto sekarang udah gak ada. Lebaran jadi bukan lebaran lagi. DI keluarga bokap juga sama aja gitu, gak pernah ketemu kalo lebaran, jarang banget makan bareng kalo natal, dsb. Gue yang sekarang kehilangan sensasi lebaran dan berbagai hirup-pikuk persiapan feast ketika gue masih SD.

Tl;Dr gue bingung aja sih, makin gede gue makin kehilangan esensi lebaran. Kaya yaudah 1 Syawal itu yaudah kaya tanggal 1 biasa aja gitu loh, nothing special but to eat and meet cousins all over the city. Lebaran hanya menjadi ajang ketemu melepas kangen, baik terhadap makanan di siang hari dan saudara yang hanya ketemu setahun sekali. Ini gue cuman curhat doang sih ya jangan dibawa serius amat, berdasarkan pengalaman gue. Saat ini gue hanya pengen ngerasain deep meaning full religious feast. Karena Tuhan bukan hanya mengatur hubungan antara Dia dan hambanya tapi juga sesama manusia dan mahluk hidup. Menurut gue sungguh menyenangkan ketika kita bisa menggabungkan keduanya dalam hubungan yang harmonis dan berarti.

featured image: from google pic

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: