Stranger Sebagku di Garuda Indonesia

Ada pepatah yang bilang “it’s not about the destination, it’s about the journey”. Mungkin itu bener banget untuk cerita yang kali ini. Bulan Juni 2013 gue berkesempatan untuk ngintip pekerjaan om gue di Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) di Hong Kong. Selama kurang lebih sebulan gue membantu staff lokal, yaitu mereka yang bersentuhan langsung dengan para Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang mau perpanjang Visa mereka yang terkadang suka curhat colongan selagi menunggu antrian. Intinya posisi ini biasanya yang paling malesin untuk staff lama karena ‘curcol’ para TKW itu. Ya tapi buat anak yang pertamakali liat KJRI (kaya gue) ya excited aja pasti. Kebetulan kantor KJRI berada di daerah semacam Little Indonesia-nya Hong Kong, Causeway Bay, jadi banyak orang Indonesia yang berkumpul di daerah ini. Tapi yang gue mau ceritain bukan pengalaman gue di KJRI mendengar ratusan cerita dari TKW tapi cerita di pesawat ketika gue mau pulang ke Jakarta. Sore itu gue terbang sendiri dari Hong Kong dengan Garuda Indonesia, saat masuk ke boarding longue nama gue di panggil katanya tiket gue di upgrade dari ekonomi ke kelas bisnis. Wah seneng banget dong ya, ini pertama kali gue duduk di kelas bisnis apalagi di 5 stars airlines macam Garuda pasti enak banget. Tapi yang gue mau ceritain bukan gimana ke-norak-an gue pertama kali naik kelas bisnis (oke mungkin sedikit), melainkan cerita tentang percakapan gue dengan Stranger Sebangku yang membuat lima jam perjalanan Hong Kong — Jakarta menambah memorable experiences di liburan kali ini.

Pesawat GA 863 lepas landas pukul 17.10 waktu setempat, gue masuk pesawat sekitar dua puluh menit sebelum keberangkatan. Sesaat setelah duduk, pramugari langsung memberikan refreshment towel. Karena udik gue merhatiin Stranger Sebangku yang telihat lebih terbiasa dengan semua fasilitas bisnis ini. Gue usap muka dan tangan gue pake handuk itu sampai pramugari nanya “Mau minum apa Pak?” ke Stranger Sebangku. Dia bilang orange juice. Karena gak mau kelihatan kaya first timer gue juga bilang “Ya, saya orange juice juga.” yang ternyata super asem tapi seger. Setelah pesawat berada di udara, gue mulai nonton film dan dengerin lagu di drive pesawat. Wow mereka punya Led Zeppelin sampai Tame Impala! Wah ini siapa ya music directornya, asik banget directory-nya. Singkat cerita meal time pun tiba, datengnya pake piring haha keren (ini gue-nya aja kali yang udik), selagi makan Stranger Sebangku mulai membangun percakapan.

“Ke Jakarta lagi libur ya?” Dia tanya. Mungkin karena muka gue agak oriental jadi dikira gue sekolah di sana.

“Oh, nggak om saya abis liat kerjaan om saya di Hong Kong, sekalian aja jalan-jalan.” Gue jawab sambil ngunyah Rendang yang super enak ini. Dia mengangguk.

“Sendiri aja?” gue jawab Iya. Dia tanya lagi berapa umur gue dan begitu gue sebut dia sontak menjawab “wah, masih muda banget ya. Hebat kamu. Dulu saya seumur kamu mana ada jalan naik pesawat sendirian. Naik pesawat aja gak pernah dulu.”

Percakapan kita dimulai. Dari berbagai pengalaman gue ngobrol dengan berbagai Stranger Sebangku, setelah sekian lama baru kali ini gue mendengarkan percakapan yang sangat luas. Terakhir gue mendengar obrolan analitikal adalah dengan profesor seni rupa tujuh tahun silam di penerbangan Amsterdam — Jakarta. Kami membahas mulai dari film Indonesia yang jarang laku dipasaran.

“Saya mulai paham gitu, kenapa film Indonesia tidak digemari oleh masyarakatnya sendiri. Mereka cenderung lebih suka sinetron yang ceritanya absurb, kamu tau kenapa dek?”

“Mungkin karena film Indonesia kalah saing sama film Barat yang tayang di bioskop dan pertahunnya lebih banyak film genre komedi horor dengan sentuhan pornografinya kali om, bener gak?” gue berusaha menjawab pertanyaan.

“Bisa, itu juga bisa,” Stangers Sebangku mengangguk sambil nunjuk gue. “Tapi, menurut saya nih, menurut Om, orang yang datang ke bioskop adalah kalangan menengah keatas yang memandang film Barat lebih bagus ketimbang film-film lokal, sementara kenapa sinetron dengan cerita absurb digemari adalah karena mereka adalah konsumsi masyarakat menengah kebawah yang nggak mampu beli tiket bioskop,” lanjutnya.

Itu masuk akal banget menurut gue. Untuk gue sendiri nonton film seminggu sekali aja udah mahal: 55 ribu untuk sekali nonton di akhir pekan dan lagian film yang diputer kan gak cuman satu, yang pengen ditonton kan gak cuman satu doang.

“Nah itu lagi yang bikin marak pembajakan di Indonesia. Makanya banyak film barat yang tayang sama dengan US premier itu untuk mencegah pembajakan.”

Pramugari menawarkan wine ke Stranger Sebangku, dia meminta dua. Satu buat dia dan satu lagi buat gue. Sepertinya sejenis sparkling wine? Ya, kebetulan gue gak pernah minum alkohol se-fancy wine jadi gak begitu paham. Sebenernya sempet mau nanya “ini gratis kan mba” tapi gue cukup tau malu kok, takut diketawain haha, wow beneran ini di-provide kenyamanan kelas dunia. Obrolan santai kami berlajut jadi ayam boiler dan tempat potong ayam di daerah Ciapus. Sistematika distribusi ayam ke fast food pokoknya ayam dan ayam. Mungkin karena dia makannya ayam kali ya tadi. Strangers Sebangku kembali buka percakapan, karena gue (ngakunya) sebagai pendengar baik ya gue suka aja sih dengerin orang. Kali ini kita balik lagi ke film. Dia bertanya tentang salah satu film yang menceritakan tentang kehidupan TKW di Hong Kong, release tahun 2010 silam.

“Kamu tau gak dek, sebenernya banyak film lokal yang membuka pikiran dan pandangan, kaya film itu. Kamu sendiri tau gak cerita TKW di Hong Kong?”

Tentu gue tau, sebulan penuh kuping gue mejeng di loket untuk dengerin cerita puluhan TKW perharinya. Tentang majikan, tentang Hong Kong, tentang kangen Indonesia dan keluarga, tentang wisata, banyak pokoknya. Jujur gue belum pernah nonton film yang dimaksud oleh Stranger Sebangku tapi gue paham tentang cerita para wanita dengan emblem pahlawan devisa itu. Cerita yang gue denger selama di KJRI memang kebanyakan tentang betapa rindunya mereka akan kampung halaman; meski di daerah Causeway Bay banyak restoran Indonesia yang sekiranya mengobati rindu rasa ayam pop atau sate kambing, cerita tentang bagaimana menjadi TKW di Hong Kong mengubah hidup mereka menjadi lebih baik, dan cerita khayalan mereka bisa membawa keluarga liburan disini. Memang ketimbang cerita yang gue denger (hanya) dari satu TKW yang satu pesawat dengan gue Jeddah — Jakarta di tahun 2011, kondisi TKW Hong Kong jauh lebih baik. Walaupun gak membuktikan apa-apa.

“Saya suka seneng kalo liat iklan (salah satu brand minuman) yang mempertemukan TKW dengan keluarganya, mereka dibawa ke Hong Kong, ya mungkin karena saya juga dulu jauh dari orang tua, rasanya rindu deh bukan kepalang,” dia tersenyum. “Yang saya takutkan nih, ketika MEA (masyarakat ekonomi asean) dibuka kita akan kalah saing karena apa ya bahasa Indonesianya, awur? Ah nyebarin, nyebarin tenaga kerja kita keluar sisanya di Indonesia banyak yang unskilled labour. Kalau gitu kita akan kalah saing dengan negara tetangga, bukan, kita MAKIN kalah saing.” Percakapan berkahir setelah ngomongin sesuatu berbau politik yang gue kurang paham, gue pun mencoba tidur di sisa tiga jam perjalanan.

Selepas mendarat gue dan Stranger Sebangku jalan sampai keluar gerbang kedatangan. Hampir pukul 12 malam, dia bilang salam dan sampai jumpa. Dijemput pake Mercedes S Class lengkap dengan supir yang ngebukain pintunya. Waw, yang naik kelas bisnis jangan-jangan pulang naik Mercedes semua lagi dan gue sekarang lagi nunggu travel ke Bandung, hehehe. Kelas bisnis di udara lalu pas turun, turun juga kelasnya di darat. Ya kapan lagi coba bisa kaya gini? Without knowing anything else but sitting on business class and riding a Mercedes, i know nothing about this Stranger Sebangku. Gak mau tau dan gak perlu tau. Anyways, it’s not about the destination, is about the journey. Dalam pengalaman gue naik pesawat gue selalu suka merhatiin orang dan tingkah lakunya, baik di bandara maupun di dalam pesawat.

Di perjalanan kali ini, bukan soal nyampe ke Jakarta tapi tentang mengisi waktu, bercakap cakap dengan Stranger Sebangku, that is my journey. Hong Kong mungkin pernah masuk jadi destinasi impian gue. Hong Kong kota yang tidak pernah tidur, kota yang punya dua sistem administrasi, kota yang jadi satu negara, kota yang multikultural dan Hong Kong dengan berbagai keunikannya. Tapi sekali lagi destinasi itu tujuan akhir, perjalanan adalah jalan menuju destinasi. Di pesawat, bertemu dengan Strangers Sebangku lainnya, itulah perjalanan gue.

(featured image from: dewanatha.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: