Dibawah Nama Besar Mereka

Mungkin semenjak gue sibuk di akhir tahun lalu, gue jarang nongol lagi di ask.fm yang artinya frekuensi pertanyaan yang masuk ke ask box juga jadi cukup berkurang. Tapi banyak diantara pertanyaan itu yang familiar dan itu itu lagi, nah pertanyaan itu yang gue akan coba jawab kali ini. Kalau liat dari judul bisa ditebak nggak frequently asked question yang mau dijawab apa? Well, pertanyaan “Kak Al, kenapa nggak pernah nunjukin muka?” dan “Kak Al kenapa nggak pernah ngasih tau identitas?” adalah dua pertanyaan yang paling sering muncul di ask box gue walaupun gue udah nggak seaktif dulu. Jawabannya sebenernya gampang sih, ya karena gue nggak ingin. Tapi dibalik itu ada jawaban yang sebenernya lebih worth it buat kalian yang udah klik link ini.

Kalau kalian ngikutin akun gue dari tahun 2013 kemaren, mungkin ada pertanyaan retorikal macam “temen-temen lo aja udah mulai buka identitas, mulai dari topkrisus bahkan sama Haruka juga udah ngasih tau dia anak arsitektur. Kok lo masih kekeuh nggak mau ngasih tau juga sih Al?” but people seems to less care about it juga sekarang, but tho some of you still kepo. So here we go, answering those questions (again):

Kenapa nggak nunjukin muka sih?

I’ve answered this in my ask.fm, jawabannya adalah karena gue sendiri nggak terlalu suka memfoto diri sendiri. Gue nggak suka di foto apalagi selfie. Gue sendiri masih kesulitan nyari profile picture yang ada gue-nya, karena mau kemanapun gue pergi pasti feed hape gue isinya objek (yes, liat instagram (at)PBYAYL). Kadang gue juga suka kecewa sama hasil jepretan orang lain, suka nggak sesuai sama yang gue inginin. Terlebih gue bukan orang yang ribet tiap ketemu harus foto, apa apa harus foto, ini foto, itu foto. I like taking picture but not taking picture of myself. Alasan kedua adalah i have soooooooo many pretty friends. Those friends adalah yang masuk ke akun “geulis” Bandung atau “hits” Bandung. Neither to say i am not pretty nor any good looking tapi dengan penampilan gue yang primp less dan nggak tomboy tomboy amat kadang suka jomplang aja jadi sebel sendiri, padahal kalau dipikir ya biasa aja gitu nggak jelek-jelek amat. I don’t have that much confidence untuk foto bergaya normal, gue lebih suka foto gaya aneh-aneh ato muka derp as you say karena it makes me happy. Tapi ada kok agendanya, di tahun ini gue mencoba boost up kepercayaan diri gue dengan lebih banyak foto muka. Ya kali aja kapan-kapan gitu gue bakalan post foto muka. Ditunggu aja.

Kenapa nggak pernah ngasih tau identitas sih?

Um… Because its creepy? Why would i be like 

Nama: Aliya Nurlela Saida

Usia: 20 tahun

Kuliah: Universitas Padjajaran jurusan Managemen Komunikasi angkatan 2012

because honey its not LinkedIn :

Anyway, sebenarnya blog post ini lebih dari sekedar menjawab pertanyaan itu sih. Gue ingin membahas soal yang bersinggungan dengan identitas. Salah duanya kenapa gue nggak pernah ngasih tau identitas gue juga karena nama keluarga gue yang cukup besar dan terkenal. Bahkan gue masih geli kalau ada orang IRL yang tau siapa keluarga gue. Mungkin keluarga gue nggak seterkenal geng anak artis atau siapalah itu tapi sepengalaman gue, mereka cukup terkenal dan membuat beberapa orang segan. Terlebih mereka-mereka yang bergulat dibidang yang serupa dengan orang orang di keluarga gue.

Rasa ketidakpercayaan diri itu muncul ketika kamu sadar bahwa kamu tidak sebanding dengan mereka yang lain. Apalagi kalau kamu menggeluti bidang yang sama dengan mereka. Gue pernah baca di salah satu jawaban ask.fm Rain Chudori tentang seberapa beruntungnya dia untuk lahir di keluarga sedemikian rupa. Rain jawab kalau dia tidak menggolongkan dirinya sebagai beruntung dan dia juga nggak mempergunakan nama belakangnya sebagai pendongkrak pamor, lalu debat antara Rain dan anon pun terjadi. Well, emang bener sih, dari yang gue lihat, Rain memang seorang pekerja keras yang karyanya nyata terlihat. Diluar dari dia punya nama keluarga yang kuat atau nggak, Rain dapat popularitas dari usahanya sendiri. Gue bahkan lebih suka karya dia ketimbang ibunya, karya Rain lebih kontemporer dan nyeleneh. Atau keajaiban Sanjaya Legacy yang bapa dan anak-anaknya sama sama sinting! Istri Pak Tisna pernah cerita tentang dilema Zico dan nama belakang ayahnya, ia bilang kalau anaknya yang pertama itu nggak mau hidup dibayang-bayang nama besar ayahnya yang notabene seniman gede Asia walaupun mereka berdua nyemplung di dunia yang sama yakni seni lukis. Tapi menurut gue karya Zico (setidaknya) sebanding dengan karya-karya ayahnya. Mereka sama-sama seniman luar biasa dan pada akhirnya Zico juga punya nama “bagus” hasil kerja kerasnya sendiri. Begitu pula dengan Etza yang sama-sama nolak nama belakang, tapi toh dia juga berkarya di dunia musik sampe berkesempatan ke Iceland, gila bok Iceland yang isinya orang dengan karya quirky semua… Well yea, in common they all tried and they suceed despite so-called “keberuntungan” terlahir di keluarga yang punya nama besar dan sebidang dengan kita. Meskipun sebenernya kata beruntung tidak terlalu pantas diberi kepada orang-orang yang sukses karena usaha mereka sendiri.

Oke balik lagi ke keluarga gue. Masalah utamanya adalah, gue belum punya karya yang lebih baik dari anggota keluarga gue yang lain. Sebutlah dua aktor utama yang punya pamor gede: bokap gue dan kakek gue yang entah kenapa kentel banget interestnya di gue. Keduanya merupakan sosok yang gue banggakan tetapi kadang nyusahin juga, karena mereka punya pamor yang begitu besar lalu muncul beberapa ekspektasi yang dijatuhkan ke gue. Misalnya pada waktu gue mewawancarai seorang desainer interior terkenal ditempat kakek gue ngajar. Sang desainer terlihat sangat gugup, padahal pertanyaan yang dilontarkan itu simple banget cuman “sudah berapa lama konsultan ini di dirikan?” “ada berapa desainer yang kerja di biro ini?” hal-hal yang mungkin udah sering banget ditanyain sama majalah desain atau web ala ala. Pas ditanya kenapa gugup, jawabannya cukup irelevan

Saya gugup, abis Aliya cucu nya Pak X

Terus gue kaya, “……???”. Contoh lain adalah ketika gue mengikuti seleksi satu pendidikan dimana bokap gue menjadi seorang “panutan”. Gue berusaha keras untuk menyembunyikan nama besar dia dalam institusi tersebut. Sayangnya salah satu panitia rajin banget sampe bacain CV psikologi gue dan akhirnya nyebar ke panitia kalau Aliya itu anaknya Bapak Y. Garis muka panitia langsung berubah dan menyegani gue, padahal yang gue lakukan cuman duduk sambil makan roti, nunggu giliran dipanggil sama panitia.

Tentu ada pro dan kontra dalam kepemilikan nama besar tersebut. Pro nya, jelas kamu bisa dapet koneksi gampang, kamu bisa dikatagorikan sebagai orang yang “beruntung” despite kamu bekerja keras dengan usahamu sendiri seperti Rain, Zico, Etza atau kamu orang yang hoki punya keluarga tenar macam Kardashian atau Hilton yang nantinya kamu cari usaha dari kepopuleran yang udah dimiliki. Tapi kontranya adalah ketika lo gagal, akan ada emblem “kok bapaknya gini, anaknya gitu sih” atau lainnya.

Sialnya, gue dapet bagian kontranya. Dua minggu kemarin, gue cukup sedih dengan beberapa keputusan yang gue dapatkan. Meskipun gue nggak nangis meraung-raung, tapi terdengar sayup sayup kalimat yang bikin gue lebih ke marah ketimbang sedih. Ya itu tadi, kalimat “Kok bapaknya salah satu orang terpandang di institusi ini, anaknya malah nggak lolos.” Sebenernya kalau dipikir ada poin bagusnya, ya tandanya gue nggak nepotisme dan nggak ada main belakang, tapi tetep aja nggak enak di denger. Maksudnya, sampai kapan sih gue akan lepas dari label “anaknya si-Y”. Ya jawabannya sampai gue terjun kebidang yang nggak berhubungan sama sekali dengan mereka. Double sialnya gue, seolah nggak bangga dengan apa yang gue miliki sekarang gue malah mengejar bidang-bidang yang familiar dengan gue, bidang-bidang yang mengelilingi gue waktu gue kecil, bidang-bidang yang jadi keahlian mereka.

Siapa yang nggak sebel coba dibanding-bandingin? Tapi ya apa daya, emang society judge you dan berekspektasi pada nama belakang yang lo punya. Kalau memang gue nggak sebagus mereka ya gue harus gimana dong? Kegagalan dua minggu silam cukup membuat gue terpukul, terlebih karena gue tahu benar bidang ini adalah bidang keahlian gue juga dan tentunya gue telah melakukan banyak pengorbanan untuk hal ini. Nyokap gue bilang, “tandanya kamu tuh harus berhenti ngikutin jejak ayah kamu, kamu harus jadi diri kamu sendiri.” Pertanyaan besar muncul di kepala gue, bagaimana bisa gue menemukan diri yang sudah tenggelam di kolam yang isinya interest mereka berdua? “Entah kamu mau ngikutin jejak ayah kamu atau apa, cuman mungkin emang belum waktunya. Nama ayah kamu masih terlalu besar, mungkin nanti kamu malah kelelep dan makin dibanding-bandingkan dengan prestasinya yang luar biasa itu,” nyokap gue ngelanjutin. “Kamu harus cari passion kamu.”

Once said kita harus berhenti mengikuti passion kita. Karena kalau kita ngikutin passion kita yang ada malah mengabaikan berbagai kesempatan yang ada di depan mata. Yes, hari dimana gue gagal, gue langsung buka TED nyari TED Talk sama Prager University tentang passion and dreams, yes emang anaknya self-heal banget. Don’t follow your passion, but bring it with you. Follow opportunity. CEUNAH MAH. Tapi mau gimana lagi dong, i grew up in place where they succeed, its like a curse.

Funny thing, hal ini juga terjadi dengan bokap gue. TAINYA NIH, dia dapet yang enak-enaknya. Dia ngikutin jejak bokapnya, masuk ke dunia yang terpaksa dia masukin karena disuruh, tapi kampretnya dia sukses juga. Damn it dad! Dia juga pernah hidup dibawah bayang bayang nama besar ayahnya. Mungkin dia nggak kepengen gue merasakan tekanan yang dia rasain waktu berada “sebidang” dengan orang dekatnya, makanya gue “digagalin”. Walaupun pada akhirnya dia kabur juga dari kekangan dunia tersebut dan merintis karirnya sendiri.

Mungkin itu yang seharusnya orang lakukan. Some people don’t succeed at first attempt, pilihannya adalah untuk mencoba lagi, lagi, dan lagi atau cari bidang lain. Intinya tetep sama, just keep searching about everything. Apakah itu bidang yang orang tua kalian lakukan, bidang yang tetangga kamu lakukan, or any field yang bahkan kamu nggak kepikiran untuk mencoba. Despite any big names yang mengkungkung kegiatanmu menurut gue pribadi nggak ada salahnya bekerja keras. One thing that you should know adalah, in some point you SHOULD really be concern about what is “in” your life. Apa yang sebenarnya kamu kejar, apa yang sebenarnya kamu cari dari menekuni bidang tersebut. 

Well, tbh tulisan ini cuman dibuat untuk melegakan hati gue aja sih, this had been a roller-coaster ride weeks. Tulisan ini juga bisa gue dedikasikan untuk kalian muda-mudi di luar sana yang terlanjur nyebur kebidang yang ngablu, mereka yang punya nama keluarga besar tapi belum bisa punya karya besar yang melanjutkan legacy nama bagus itu, buat mereka yang masih kurang percaya diri akan bidang yang sedang mereka tekuni, or to anyone yang sedang gabut jam 2 pagi dan kepaksa baca link ini. Life is fun karena kamu harus terus mencari. Mencari passion, mencari jawaban, mencari masalah, mecari kitab suci what so ever. Yes it is tiring, kalau nggak mau capek sih ya diem aja but lemme tell you, i believe that everything will be worth it in some point. You just have to search. Kerja keras tidak akan mengecewakan. Well yea, tapi kita kita ini harus mulai belajar melawan yang namanya nunda-nunda, hehe… Dasar procrastinator tingkat dewa!

PS: I put some of my favorite TED-Talk and PragerU video in to the inline link, check em’! Mungkin bisa membantu kalian

Photo: google image “trophy”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: