What I Learn From My Feminist Mom’s Upbringing

Beberapa bulan silam ada yang pernah minta di ask.fm untuk describe keluarga gue yang “kelihatannya sangat unik”. Hmm ah… Di kesempatan kali ini gue ingin membahas soal nyokap gue because i spent most of my pre-teenange life just with her. Pengaruh dia cukup besar dalam hidup gue, terlebih dalam melihat perspektif kehidupan wanita karir di era modern.

Akhir-akhir ini timeline facebook gue dipenuhi dengan postingan burkini ban, how young marriage could harm teenage girl, dan berbagai post yang menyuarakan keadilan dan kesetaraan gender. Secara ideal mungkin kisah-kisah (yang membuat) prihatin tersebut harus disebarkan agar kita bisa menyuarakan semangat kesetaraan gender dan menyadarkan bahwa the idea of so-called the mens world merupakan hal yang harus dihentikan. “Men should really stop telling women what to wear” atau lain sebagainya. Dalam kesempatan lain juga ada propaganda yang bilang sesosok perempuan itu harus independen! Nggak boleh tergantung sama laki-laki, kita juga punya hak untuk berkata tidak pada suami kita, hak untuk menolak untuk menikah muda hanya demi tuntutan sosial dan lain sebagainya. Sebenernya yang gue tangkep dari berbagai bahasan tentang feminis ini adalah bagaimana perempuan itu harus bisa menentukan pilihannya sendiri tanpa ada paksaan dari pihak luar baik itu tuntutan atau sekedar justifikasi sosial. 

Tahun 2008 silam, ketika gue berada dimasa transisi genre Japanese pop ke American style, gue beranggapan bahwa video klip vulgar macam Maroon 5 atau RnB Jason Derulo yang objectified woman merupakan hal yang nggak tabu untuk ditunjukan. Nyokap gue sering protes tentang ketidak etisan musisi barat yang mempergunakan tubuh perempuan untuk bahan erotis video klip. Bodohnya, gue merasa bahwa nyokap gue lah yang terlalu Timur dan kuno. “Ya itu kultur mereka begitu, ya emang trend cewe seksi seksi”. Lama berselang 8 tahun kemudian, entah gue yang baru ngeh atau emang media Barat mulai protes dan meminta berbagai pihak berhenti menjadikan perempuan sebagai objek. Mulai dari berbagai kampanya NGO dan perusahaan besar yang menjadikan kampanye sebagai produk CSR mereka. Gue pun mulai mencoba memahami konteks gender dan teori-teori feminisme dan sungguh beruntungnya gue punya dosen dengan keahlian bidang Gender Studies sehingga pemahaman gue terhadap isu berbau gender nggak cetek ala edukasi media. Terlebih di usia 20-an ini dan di tahun naiknya semangat emansipasi kembali, gue jadi bisa merekonstruksi ulang pemahaman gue terhadap pemikiran nyokap gue. I have never stated that i’m a feminist but as it was defined by Chimamanda Adichi (as it was inspired by our lovely Simone du Beauvoir) “feminist is a person who believe in social, political, and economical equality of the sexes”, but my mom is and she’s using it for upbringing me. Sejak tawaran pergi ke London 15 tahun silam, gue telah mempercayai nyokap gue adalah seorang feminis, sejak hari itu dan sampai sekarang banyak sekali hal yang gue pelajari dari ke-feminis-an nyokap gue.

Perempuan harus pintar. Nyokap gue sangat mendukung keinginan gue untuk belajar. Ditingkat akhir masa perkuliahan gue, dia bahkan yang sangat ingin gue lanjut S2 setelah lulus. Dia yang mendukung gue untuk les sana sini, dia yang memfasilitasi gue dengan sekolah yang bagus, dan dia yang mengajak gue melihat dunia dari berbagai perspektif. Nggak pernah sekali dalam masa gue dibesarkan gue merasa bosan dan bertanya “kenapa sih aku sekolah disini?” atau “kenapa sih aku les ini? kan aku nggak suka!”, semua yang gue kerjakan adalah hal yang gue suka. Nyokap gue pernah bilang “Kalo ibu mati sih nggak bakalan ninggalin harta, bikin ricuh tau sama sodara. Ibu mah bakalan ngeluarin semua harta ibu sekarang buat pendidikan kamu, buat keterampilan kamu, buat les lesan. Ngapain ngasih duit, nggak guna”. Mungkin kalian pernah denger ejekan “cewe ngapain sih pinter-pinter, ntarnya juga cuman ngurusin suami sama anak”. Alangkah indah ketika ditimpali dengan “setidaknya anak saya dididik dengan ibu yang pintar dan lulusan S3 ketimbang dengan yang lain yang hanya lulusan SD atau SMP. Wawasan anak saya akan lebih luas ketimbang anak lain”, burn mom burn~ Ya meskipun nyokap gue sampe sekarang masih bekerja sebagai profesional perseorangan tapi mungkin kalo kalo nih, gue dilarang sama suami gue untuk bekerja, gue punya bekal untuk mendidik anak gue.

Perempuan setidaknya harus punya uang selingkuhan. Kedua orang tua gue merupakan pekerja,tandanya dua duanya sama sama memiliki penghasilan. Sepait-pait nya skenario, kita sebagai perempuan tidak boleh kerja atau nggak pengen kerja, jangan terlalu bergantung sama duit yang dikasih dari suami. Apalagi dengan gaya hidup yang (misalkan) hedon gitu, hadeuh bukankah jadinya kita akan terlalu demanding? “Papa, mama pengen makan Holyribs!” “Papa, mama pengen dibeliin sepatu baru” dan nggak enaknya kita jadi tergantung. Ya, kalau misalkan nih emang nggak dibolehin sama suami ya mau gimana lagi, masa mau dicere in??? Ya walaupun i would rather not marrying him on the first place juga sih but things like that biasanya keliatan abis married kan??? Oke, kalau emang segitu nggak bolehnya, ya kita jangan jadi korban keadaan. Hey, jadi sista online shop is a good thing yang biasa dilakuin. Jualan kue-kue kering ato misalnya jadi guru ngaji gitu, kan lumayan bayarannya. Nah inilah datanya duit selingkuhan, hehehe. Your SO nggak perlu tahu soal ini, kan namanya juga duit selingkuh, kalo ketauan jatuh lah sudah harga dirinya.

Ralat, perempuan harus charming. “Harus SHARming” dengan penekanan di SHAR, iya shar bukan char kalo sebagaimana nyokap gue ngomong. Katanya jadi perempuan itu sulit jaman sekarang. Kalau konvesionalnya perempuan punya 3 kerjaan aja atau lebih dikenal sama “tri-ur” alias dapUR-sumUR-kasUR. Tapi jaman kaya gini kayanya susaaah banget kaya gitu. Kalo cuman tri-ur doang musti punya suami sultan dulu deh baru bisa biayain hidup. We have to work, take care of our SO and kids, take care of the house, bills, go shopping, clean the house to stay on budget (by not using bibi), and other. Me-le-lah-kan. “Makanya, jadi perempuan itu harus SHARming, supaya nggak tergantung sama sesuatu,” katanya nyokap gue. Intinya sih bisa muter otak dan nggak jadi korban keadaan. Selalu bisa ngakalin sesuatu as if dipecat dari kerjaan, kita masih punya skill main piano, ya itung itung bisa nambah penghasilan sementara. Or kalau misal suami kecelakaan, kita bisa pake duit hasil tabungan “dana darurat” jadi nggak minjem sana sini kek orang susah. True superhero is a woman euy. Mungkin ini salah satu jawaban kenapa gue di les in sana sini, capeknya sekarang tapi enaknya ntar. Thank you mommy.

Sebenernya semua ini berinti pada, perempuan harus bisa berdikari. EDAN, yes berdikari, berdiri diatas kaki sendiri. Maksudnya dia nggak tergantung sama orang lain baik secara finansial atau hal lainnya. Harus aware dan harus punya bumper kali-kali nabrak sesuatu. Bukan berarti independer berlebih “aku tidak butuh siapa siapa hanya diriku” kaya gitu, nooo bukan kaya gitu sih. More likely seperti “i don’t have to wait for anyone to buy me a fancy dinner for myself or a very funky expensive looking clutch bag”. How lovely is it? To but things you want with your own money. It’s your money you can do anything with it. Hehehehehehehe. But please do not take it to the extreme level!!

I spent time much with my mom ever since my dad became Indiana Jones yang kerjaannya keluar masuk hutan untuk ekspedisi and in our time alone, she teaches me much about how to becoming her ideal “woman” in the modern era. Gue ngerasa ini cukup relatable so this had been glimpse on how my mom raise me up. Thank you so much mom for making me the way i am today.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: