When You Are Really Searching For God

Warning: Sensitive content

24/10/13

“Al, kamu shalat? Aku pikir kamu Atheis!”

Maafkan rupaku yang non-i Indo-China Madura-Sunda (dan sebutkanlah seluruh etnik dalam darahku) yang membuatmu terpukau aku sembahyang.

“Sorry nih Al, kalo kamu ini… Puasa karena disuruh nyokap apa…”

Adapula yang frontal bertanya

“Al, kenapa lo beragama? Kenapa lo percaya Tuhan? Kenapa lo islam?”

Iya, itu aku yang bertanya. Aku suka topik satu ini. Ini tentang aku dan tentang penciptaku, sahabatku, kekasihku.

***

Kamu tahu, aku adalah orang yang tidak mudah percaya engan orang lain. Aku tidak suka bersosialisasi dengan banyak orang. Aku lebih suka sendiri. Aku adalah pribadi yang terlihat ekspresif namun lebih senang menyimpan segalanya sendiri, memecahkan masalah sendiri dan menikmati keberhasilan yang diperoleh setelah mecahkan masalah.

Aku sadar. Manusia tak bisa hidup sendiri. Manusia mahluk sosial. Tapi bagaimana? Aku tidak suka manusia, (manusia yang dimaksud dalam artian sosial dimana “manusia” adalah subjek). Aku lebih sengang terlarut dalam imaji, kesendirian, keheningan.

Solitude is a bliss – Tame Impala

Tapi aku sadar, aku tidak bisa hidup sendiri. Aku butuh seseorang sebagai “tong sampah”. Tapi siapa? Siapa yang aku miliki? Sahabat saja tidak punya. Orang tua? Mereka tak sefase. Teman? Mana aku percaya. Apakah aku butuh seseorang? Apa aku butuh sesuatu?

Tuhan adalah sesuatu. Jika aku bilang seseorang, nanti aku bisa dibakar hidup-hidup oleh beberapa petinggi agama. Aku butuh sesuatu yang selalu hadir 24 jam kali Tujuh, tiap waktu bersamaku. Selain diriku. Yang mengenalku, yang menciptakanku, siapa? Tuhan.

Mengapa bukan ayah-ibumu? Mereka hanya alat untuk menghadirkanmu disini. Karena Tuhan tidak dapat berreproduksi. Ia tidak dapat menghasilkan keturunan. ia sesuatu yag sendiri. Namun tidak pernah kesepian.

Seperti Pinokio yang bertanya pada Gepeto tentang mengapa ia diciptakan. Seperti manusia-manusia awam membaca buku manual sebelum membuat Gundam Set. Seperti orang-orang bertanya kepada James Watt bagaimana kerja mesin uap. Seperti aku bertanya pada Tuhan, bagaimana aku bergerak.

Logikanya, Ia macam teman imajinasi gadis kecil berumur tiga. tak terlihat, tapi nyata bagi gadis itu. Karena ia percaya. Percaya teman imajinasinya ada. Ia iman. Tapi kata iman jauh terlalu dalam untuk dibahas disini. Aku iman kepada Tuhaknku. Ia selalu ada, setiap waktu. Bahkan ketika aku tidak bersama diriku. Ia ada, Ia hadir, dan Ia selalu mendengarkan. Ia mendengar ketika yang lain hanya mendengar setengah telinga. Ia memanta dan memberi tahu dengan cara yang luar biasa. Ia mengejutkan. Ia spontan.

Aku tidak perlu memberikan alamatku untuk meminta Ia datang kesini. Aku tak perlu tahu diama Ia sekarang agar bisa aku datangi. Karena Dia ada disini. Selalu bersamaku.

Ia adalah sahabat paling loyal dan paling mengerti. Ia memberi masukan dan nasihat tanpa menyinggung perasaan kecilku yang sensitif ini. Ia tahun kata-kata tepat untuk menyadarkanku. Ia sahabat paling sempurna dengan 99 nama agungnya yang dinyanyikan berkoar-koar di masjid-masjid. Kau memang sempurna.

Ia yang terbaik; bukan karena provokasi orang lain.

***

SURAT UNTUK TUHAN; Sesuatu yang Selalu Ada Untuk Aliya
Terimakasih Tuhan, telah menghadirkan aku dalam kehidupanku yang sekarang. Terimakasih untuk selalu ada disaat yang lain hilang. Terimakasih untuk selalu mendengarkan curhatan di malam hari ketika yang lain telah tertidur. Terima kasih telah memberikan kemampuan lebih yang aku damba-dambakan. Terimakasih telah menciptakanku dan menyayangiku. Terimakasih telah menjawab pertanyaan-pertanyaan kecil tentang jalan hidup yang lalu, sekarang dan akan datang lewat kejadian irasional yang aku imani Engkau campurtangani.

Tapi Tuhan, otakku dan pemikiranku berjalan terlalu cepat nyaris berlari. Sementara tanganku lambat tertinggal arus pemikiran. Tapi Tuhan, aku tidak mengerti. Aku masih tidak mengerti emngapa aku seperti terbakar amarah ketika oran lain membicarakanMu dengan akal sempit mereka. Membicarakanmu seakan ada yang lain. Mereka-mereka yang seagama denganku.

Tuhan, apakan setiap orang harus beragama? Orang-orang dalam agamaku pernah bilang kalau ingin masuk surgaMu nanti harus masuk agama yang aku anut searang. Apa itu benar? Tuhan, kalau aku percaya Engkau ada dengan segala seagunganMu tetapi tidak ikut agama, apa aku syirik? Apa aku akan ditolak di surgaMu kelak?

Mengapa kami selalu diiming-imingi surgamu? Aku kesal ya Tuhan! Karena selalu bilang “agar nanti dapat surga”.Tuhan, haruskah aku berterimakasih kepadaMu atas karunia bertoleransi-dan-berpemikiran-sangat-luas ini?

Tuhan, malam ini aku bertanya. apa benar imbalan surgaMu itu ada? Dan balasan kejam neraka sungguh nyata adanya? Mengapa mereka begitu takut?

Tuhan, konsepMu tak mampu terjamahi manusia. Kemana mereka meneorikannya dan menyebarkannya? Tuhan, kepada orang-orang yang tidak mempercayai kehadiranMu, apa Engkau murka? Tapi mengapa mereka murka?

Tuhan, kalau aku yakini setiap manusia punya konsep keTuhanannya masing-masing, apa alasan seseorang harus memilih sesuatu yang dia tidak imani di kotak “agama” saat membuat KTP?

Aku percaya. Tuhan, Engkau pemimpin yang Maha, akan mengungkap fakta sebanyak-banyaknya, memberikan pilihan seluas-luasnya. Dengan apapun kata manusia di muka bumi tentang kehendakMu, aku percaya akan teoriku sendiri sampai malam ini, Engkau masih Yang Maha. Jadi, aku serahkan semua penilaian kepadaMu. Dan sampai saat ini juga, Engkau masih Yang Maha.

Maka disini aku berdoa dalam tulisan

“Tuhan, jika aku bersujud untuk balasan imbalan dariMu, aku mohon tutup semua pintu berkahku. Karena sesungguhnya aku ingin menyembah dan memujamu karena ketulusanku mencintaimu”


Salam sayang dari fansMu, Aliya.

ps: sampaikan salam pada semua yang Engkau cintai lewat kebahagiaan kecil malam ini. Aku mohon, trims.

***

Dan disini, Aliya yang terlahir dalam intersect lingkatan keTuhanan, keagamaan, dan perbedaan mengatakan bahwa aku pilih Islam karena saya suka cara Islam berkomunikasi denganMu. Bukan karena orang tua atau karena sekolah di Timur Tengah. Tapi karena aku suka.

note: tulisan ini ditulis seperti tanggal tertera paling awal, 24 Oktober 2013 ketika perjalanan mencari Tuhan saya berakhir saat ia mendapat kesempatan “diundang” ke rumah Tuhan di Tanah Suci. Kecil dengan lingkungan cina katolik lalu sering pindah-pindah ke negara sekuler, Aliya kecil pernah merasakan jadi kaum minoritas yang ditindas. Pre-teenanger Aliya juga sempat mencoba untuk tidak percaya Tuhan ketika ia merasa dikhianati oleh kehilangan jati diri dan kepercayaan dirinya yang diinjak-injak oleh manusia yang mengagungkan Tuhan. Adolescent Aliya juga pernah membenci Islam karena lingkungannya terlalu fanatik dengan ustad yang menurutnya irasional dan membuat ia belajar katolik selama 1,5 tahun, namun menyerah karena merasa kurang cocok. Sekarang Puji Tuhan telah punya 4 sahabat baik dengan iman berbada-beda, makin meyakinkan Adult Aliya bahwa ada kedamaian dalam keimanan yang seimbang. Sampai tulisan ini dipublikasikan (dan diketik ulang dengan beberapa suntingan tanggal 11 September 2016 dengan bgm takbiran anak-anak cepreng bikin pusing) tulisan ini masih sangat relevan dengan kejadian-kejadian yang terjadi di dunia. Ya emang masih berdasarkan news yang muncul di feed facebook.  Menarik bahwa dunia kita bergerak lebih lambat dan mengalami kemunduran. Dosen Sejarah Internasional saya pernah mengatakan dunia ini bekerja dengan Teori Tangan Kiri. Kelingking diibaratkan sebagai masa Ancient World,   jari manis merupakan masa Medivial World, jari tengah yang mana puncak kejayaan manusia disebut masa Renaissance and The Age of Reason yang sayangnya malah membawa turun ke jari telunjuk masa The Rise of The Masses in Revolution  yang berakhir di jempol dengan Clash of Ideology in Modern World yang masih berjalan sampai sekarang. Saya sih berharapnya kita sudah ada di jempol tangan kanan sehingga saya setidaknya masih bisa hidup untuk merasakan Teori Tangan Kanan dan berdiri di telunjuk sebelum saya pindah ke dimensi yang katanya lebih kekal.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: