Indonesians, High Expectation, and Freedom of Speech

Mumpung masih anget nih bahas salah satu festival internasional yang baru diselenggarain minggu lalu. Udah nulis juga tentang review acara tersebut di ROI, baca yak! Tapi disini bukan mau bahas acara yang kemaren aja sih. Mungkin lebih bagaimana orang Indonesia dan ekspektasinya yang tinggi terhadap suatu acara yang kadang berlebihan dan suka playing victim. Singkat cerita Lalala Festival yang telah menjadi perbincangan hangat sejak bulan Agustus karena line up nya yang super keren dan konsep yang gak biasa dianggap gagal oleh netizen karena ketidak mampuannya memenuhi “janji-janji” nya yang dipromosikan di instagram dengan sangat baik. Bahkan ada beberapa dari pengunjung yang merasa rugi berinisiatif untuk membuat petisi penuntutan refund sejumlah uang yang dibayarkan untuk fasilitas yang dijanjikan namun tidak mereka nikmati.

Mungkin karena gue masuknya gratis dan nggak meminta fasilitas khusus jadi nggak begitu kerasa. Justru menurut gue,  sebagai media yang berkutat seputaran panggung menganggap kalau sistem mereka sangat baik. Mereka menerapkan sistem kloter untuk pengambilan foto di media pit yang mana satu kloter berlangsung selama sepuluh menit saja. Sialnya, keamanan yang “ngusir” para media itu bukan panitia dari Lalala, melainkan pihak security beneran om om gitu gatau deh dari mana cuman serem dan tegas ya sukses lah menerapkan sistem kloter ini. Sistem ini digunakan supaya penonoton nggak kehalangin sama media, terlebih media pit juga sering kali digunain sama panitia dan rekan media untuk lebih dekat dengan artis. Section dibagi dengan sangat rapih juga, media pit tanpa barikade ke panggung, VIP, dan festival. Tata cahaya dan sound juga sangat memuaskan di Lalala Stage dan Future Stage, sayangnya serasa pilih kasih, Nature Stage yang berisi band kurasi lokal hanya dijadikan BGM para pengunjung yang lagi nyari makan. Mungkin yang harus disayangkan adalah karena terlalu berfokus ke panggung utama, mereka jadi mengabaikan yang lain. 

Acara kemarin memang di guyur hujan sangat lebat, terlebih memilih tema hutan yang pasti sudah tau akan becek karena langsung ke tanah. Beberapa pengunjung mengeluhkan tanah yang sangat berlumpur dan kelambatan panitia dalam menyediakan raincoat. Sebenernya gue juga gak begitu paham soal raincoat ini soalnya pas gue dateng pas ujannya reda, ini based on komen di instagram aja sih. Pas gue dateng tanahnya udah super slippery dan muddy. Bahkan gue aja yang pake sepatu gunung masih juga kepeleset sedikit mah. Sialnya lagi tidak ada kejelasan posisi booth dan nggak ada palang penanda selain di entrance. Hal ini bikin beberapa pengunjung geram karena musti bolak-balik venue yang nggak kecil ini untuk menemukan tempat yang mereka maksud. Gue aja dalam merefund token di pouch gue butuh keliling venue untuk menemukan Refund Bar. Gue dilempar sana sini oleh panitia, pas gue tanya refund bar dimana jawabannya cuman “disana”. Yha. Sempat beberapa kali juga ngobrol dengan panitia inti yang mengaku kurangnya koordinasi karena kurang jumlah orang. Mungkin masih terfokus dengan gimmick semata kali ya dalam pembuatan acaranya. Padahal dalam memilih kata “internasional” seharusnya dipikirkan lebih dari sekedar tarafan artis yang dibawa.

Tapi Lalala Festival kemarin bukan pertama kali kejadian kaya gitu terjadi di Bandung. Di bulan April akhir, KMF Unpad juga sempat membuat geram para netizen yang nggak terpenuhi ekspektasinya di The I Way Fest. Acara yang menawarkan konsep kolaborasi nyetrik ini kewalahan menghadapi hujan badai yang tiba tiba datang dan mengguyur sound system, memaksa nyaris semua artis utama batal main. Untung harga tiketnya masih terbilang murah dibawah 50 ribu, kemarahan netizen juga nggak selebay Lalala Fest. Tapi tetep aja hujatan asem pait itu keluar di kolom instagram, masih ada kok sampe sekarang coba tengok instagramnya aja.

Setiap pengunjung pasti punya ekspektasi tersendiri terhadap suatu acara yang ia datangi. Kalau boleh jujur sih, gue nggak punya pengalaman membayar untuk berekspektasi. Dalam artian, salah satu alasan kenapa gue ingin masuk media adalah tiket konser gratis, dan puji Tuhan sejak SMA gue nggak pernah bayar tiket konser. Cuman secara logika ya sejumlah uang yang dibayarkan sih idealnya “balik” ke kitanya juga sepadan. Semakin besar jumlahnya semakin pengunjung ingin dianggap raja. Dalam kasus The I Way Fest, jumlah uangnya mungkin nggak seberapa cuman batal manggungnya dan ketidak jelasan pasca hujan badailah yang bikin jadi bete. Ujung-ujungnya band yang main ya band microgig yang udah biasa dibawa buat manggung. Dalam konteks Lalala Fest, jumlah uang yang beratus ribu plus pajak 30% dan denda early entry dirasa nggak worth it untuk dibayarkan. Memang diakui banyak miskomunikasi yang bikin naik pitam dan namparin panitiannya satu satu karena ketidak pahaman mereka terhadap acara yang mereka selenggarakan, bahkan terlihat beberapa panitia masuk media pit untuk joget, waah masih sempat menikmati acara ya. Menariknya, terkadang pengunjung juga tidak cerdas ketika di lapangan, mendahulukan gimmick untuk foto feed ig baik sebelum keselamatan dan kenyamanan mereka, dan yang paling menyebalkan adalah menganggap semua yang memakai tag adalah panitia. Gue ada 10 kali mereun ditanyain tempat ngisi token dan wc, ya gue sih jawab aja karena gue tau tapi kan warna kalung gue beda???!?!?

Lucunya lagi para pengunjung selalu merasa menjadi korban keadaan kegagalan sebuah event. Di jaman instagram kaya gini keliatan banget orang-orang yang mencurahkan emosinya di kolom instagram penyelenggara. Terkadang jadi hiburan sendiri buat orang media yang nyari bahan tambahan untuk artikelnya. Gue sendiri nggak usah nanyain satu satu orang dilapangan, cukup baca komen ig dan dapat garis besar pendapat pengunjung. Salahnya adalah ke-lebay-an yang dicurahkan, contohnya masalah footwear di Lalala Fest. Kondisi lapangan kemarin benar benar becek, bahkan sepatu aja banyak yang mendelep kedalem lumpur banyak bangkai sendal jepit dan sepatu putih yang jadi korban. Komentar netizen di instagram berisi tentang ‘thank you ya sepatu saya jadi kotor!”. Oh please, don’t play victim, kalau kamu cukup pintar dan paham tentang lokasi venue, kamu juga nggak perlu susah. Sudah jelas-jelas dari jaman kapan juga dikasih tau akan main di hutan, “bukan orang Bandung!” juga bukan alasan yang tepat, hari gini kan tinggal di google aja lokasinya kaya gimana. Kalau datang ke festival musik lain emang kalian nggak pernah liat dulu apa kondisi nya kaya gimana? Atau jangan-jangan Lalala merupakan festival musik pertama kalian? Despite panitia yang lamban dan kurang koordinasi, seharusnya sebagai penikmat musik juga harus pintar dan mengantisipasi, tapi yang terjadi malah seolah pengunjung harus selalu menjadi raja yang mana pembuat acara harus memberikan service dengan luar biasa baik. Dari kedua belah pihak harus sama sama antisipasi terhadap force majeur seperti hujan badai, banjir, atau bahkan gempa bumi. Kekurangan Lalala dan The I Way mungkin hampir mirip; terlalu tergantung dengan plan A dan don’t think the unthinkable, terlalu tergantung dengan hal klenik macam pawang ujan ketimbang kemampuan membaca cuaca dan pemahami antisipasinya. Gue sempat membuat acara di hutan dalam skala lebih kecil, SATVRA namanya. Mungkin bukan sebuah event besar yang menarik masa banyak, namun disitu gue belajar think the unthinkable. Bahkan yang nggak penting aja dibahas! Misal tentang jembatan tiba-tiba roboh, gerimis, hujan badai, sungai meluap, sampai kebakaran hutan. Lebay sih tapi outputnya menurut kebanyakan masa itu baik. I’m not saying acara gue lebih keren dari kedua acara tersebut, setiap acara juga punya pros and cons nya kok.

Di era serba terbuka ini terkadang kebebasan berpendapat malah diselewengkan, salah satu bentuknya ya komen instagram tea. Gue bahkan sempet ngepoin akun petisi buat Lalala. Haduh, susah ya semua aja harus dipetisi jaman sekarang. Memang seberapa kuat sih petisi yang diinisiasi common interest low power ini? Seberapa influential kah? Salah satu dosen pernah bilang bahwa Indonesia seringkali salah menginterpertasikan konsep “bebas”, mereka selalu berfikir bebas adalah bebas sebebas bebasnya, Indonesian baby boomers and millenial (based on social learning theory) are too paranoid of being controlled as in Orba. Ya tapi kan semuanya juga ada kode etik dan aturannya dong, kalo bebas bebas teuing mah jiga nu gelo atuh. Beberapa dari komentar yang diketik di kolom ig juga terkadang inappropriate dan sarkas picisan, komentar kaya gitu biasanya dimotori oleh emosi nggak stabil yang meluap-luap, hadeuh.

Dari yang gue liat kemarin sih memang menataran informasi yang diberikan di instagram belum cukup memenuhi standar untuk memasang kata “internasional” dalam jargonnya. Pengalaman mengikuti beberapa festival diluar negeri, meskipun baru pertama kali juga mereka melakukan penataran yang baik kepada pengunjung. Semua jelas dimana mananya, ada sign, dan panitia di brief dengan baik karena dari tajuk internasional sendiri penyelenggara berekspektasi pengunjung asing bukan hanya dari negara tersebut. Kemarin, setting venue dengan peta yang diberikan aja beda, yha bagaimana bisa dong gue memahami lokasi lokasi yang ada selain harus jalan kaki mengelilingi venue yang sangat besar itu. Ya meskipun jalan jauh merupakan salah satu resiko datang ke festival dong, seharusnya bukan menjadi hal yang dikeluhkan secara berlebih. 

Pengakuan “The First International Forest Festival” sebenarnya tidak tepat digunakan kalau hanya berfokus pada artis internasional dan lokasi di tengah hutan pinus, sebab sudah banyak sekali yang menyelenggarakan event musik ditengah hutan dan beberapa telah mengundang artis internasional. Sebut saja acara yang dihelat September lalu oleh Ruang Rupa; RRREC Festival, di kawasan Situgunung Sukabumi. Mereka mengusung tema yang cukup mirip hanya less hipster dan kekinian saja karena fokusnya memang ke seni sebagaimana acara Ruang Rupa. Gue emang nggak nyempetin dateng ke RRREC Fest, namun dari websitenya sudah sangat informatif selayaknya festival internasional sangat berbeda dengan layout web Lalala yang sungguh hip tapi tidak sama sekali mencantumkan informasi selain artis dan gambaran acara. Mungkin demand justifikasi “kekinian” menjadi hambatan untuk Lalala menyelenggarakan event dengan standar operasional baik. Acara bertemakan sama juga pernah “gagal” dalam tingkat operasionalnya akibat hujan besar, Summer and Rain yang diselenggarakan tahun 2015 silam di Rahong Camp Ground Pangalengan kebanjiran dan membuat pengunjung jadi nggak mood karena kondisi tenda yang bocor dan becek. Eiger juga sempat membuat acara musik di camping ground yang diberi nama Eiger Music Camp, namun karena dimotori oleh orang-orang kolot dan beda skena, acara ini memang terkesan lebih internal sebagai ajang promosi produk baru hampir mirip seperti pelantikan Campus Ambassador Jansport di daerah Bogor.

Terlalu berfokus kepada event di Amerika mungkin, dengar dengar cukup terinspirasi dari Woodstock dan Electric Forest. Gue tau kok, penyelenggaraan konser di hutan itu butuh persiapan dan handling yang berbeda dengan event di kota, bahkan salah satu petinggi The Group, Carmel Puma di sesi talkshow NET. juga mengakui kesulitan dalam pengaturan sistem; sound, tata letak, dsb. Namun seharusnya penyelenggara juga berkaca pada kondisi terrain, musim, dan cuaca di Indonesia sendiri, dari sini kelihatan minimnya pengetahuan tentang alam dari pihak penyelenggara sendiri. Terlihat dari tidak jelasnya sistem kedatangan dan kepulangan para pengunjung. Asumsi gue sih, penyelenggara baru pertama kali ke daerah Cikole itu pas survei area sehingga belum paham alur yang tepat. Entah mengapa kemarin juga tidak ada polisi sama sekali yang membantu pengaturan lalu lintas padahal tempat area parkir berada di kawasan Datasemen B Polda Jabar, entah bukan tugas mereka atau karena ngga dapet jatah. SIstem shuttle yang kacau saat kedatangan dan tidak adanya atensi dari panitia saat kepulangan membuat festival ini menjadi satir. Gue aja balik nebeng truk polisi ke Rusun Datasemen B, malu sendiri pake baju hip dan kekinian dibawa kaya abis di sweeping brothel pake truk polisi. Gila!

Well gue sendiri bukan panitia inti (dan sayangnya panitia inti juga enggan untuk ditanya-tanya perihal Lalala Fest) dan nggak tau ke hebohan apa yang terjadi di HT mereka saat kita mulai mengeluh di lapangan. Alasan force majeur dan ketidak cakapan panitia menjadi sumbu untuk menyulut kemarahan netizen di era digital, yang perlu ditekankan dari kejadian minggu lalu adalah kemampuan kedua belah pihak untuk sama-sama toleransi dan menggunakan kecerdasan mereka. Pihak panitia yang lack of inisiatif dan pengunjung yang tidak cermat dalam pemahaman festival bukan merupakan kombinasi yang ingin terus berulang di skena musik Bandung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: