Dibalik Gelimpangan Rupiah: Perspektif Lain Menikmati CSR

Kekecewaan pasca gagal ikut program untuk ekspedisi pertengahan tahun lalu langsung terbayar ketika 2 email datang menandakan gue keterima 2 program CSR dan 2 perusahaan berbeda selama beberapa tahun kedepan. Program pertama adalah Beasiswa Djarum Plus dan satunya adalah XL Future Leaders.  Kegilaan baru dimulai awal November lalu, tapi sejak bulan Oktober badan ini udah di press luar biasa untuk ngurusin Picnic Cinema dan tulisan pemecah rekor ROI pada pembahasan Lalala Fest. Silaturahmi Nasional kedua program ini dilaksanakan secara berturut-turut. Djarum mengadakan National Building (NB) pada tanggal 10-16 November di Semarang sementara XL mengadakan National Conference di Jakarta pada tanggal 17-19 November kemarin. Hari ini resmi gue bobrok digigitin penyakit karena kuliah nggak mau kompromi soal tugas dan mata kuliah yang ditinggal selama dua minggu jadi jetsetter.

Biasanya sebelum gue ikut program gue google dulu tentang pengalaman “senior” gue di program tersebut. Dalam tulisan, mereka berbagi bagaimana keseharian selama program. Misal, pada blog Kak XYZ ia bercerita tentang kesehariannya berlatih choir untuk Malam Dharma Puruhita Beswan, ia bercerita tentang di Kudus dan nostalgia ke-baper-an NB ketika mengunjungi Djarum Oasis. Begitupula dengan tulisan “senior” di XLFL, menceritakan dapat HP dan laptop apa, bagaimana kagetnya mendapat tantangan LEAD Indonesia. Semua sangat membantu memberikan sebuah visual tentang apa yang akan gue jalanin. Tapi ketika sudah menjalani itu semua, karena udah tau bakalan kaya gimana ya jadinya nggak kejutan lagi gitu loh. Selama NB dan Natcon kemarin, justru gue memperhatikan hal-hal lain yang sebenernya nggak gitu relevan untuk gue perhatiin juga. It’s just simply people don’t care much about it; sistem dan uang.

Menarik ketika seminggu sebelum keberangkatan ke Semarang, gue dan teman-teman pengurus regional Bandung sudah mulai disibukan dengan agenda plotting minat choir dan teater. Kami juga dikumpulkan untuk diberikan data kamar, tata tertib, jadwal, bis, dan pakaian yang harus dikenakan selama disana. Everything was very prepared. Bagaimana tidak? Mengumpulkan 500 lebih anak di satu kota bukan urusan kecil. Terlebih datang dari seluruh penjuru Indonesia. Selain itu tidak mungkin juga melepas 500 orang karabitan dilokasi. Penyelenggaraan NB didukung oleh setidaknya 500 orang lagi untuk bantu sana sini; EO, polisi, pelatih, tukang bersih-bersih, supir dan kenek bis, armada hotel, pembina lokal, penanggung jawab sesi, dan orang-orang lain yang tidak kelihatan.

Ketika sampai di hotel, katanya di kamar ada kejutan. Ya bukan kejutan, udah tau kok dari blog Kak XYZ kalau dikamar dikasih surat dari kepala program, jaket, seragam, tas, dan pernak-pernik untuk beswan lainnya. Ada satu perspektif menarik soal surat. Surat ini dimasukan dalam amplop dengan layout tema Malam Dharma Puruhita Beswan angkatan kami; Gema Bumi Palapa, didalamnya ada surat dengan nama kita “Dear, Aliya”. Ketika besok kami diminta untuk berkumpul breakfast terdengar suara kegirangan tentang surat semalam, “eh gue seneng banget Pak Prim (ketua program) ngirim surat gitu, kek pake nama kita!” Hmm, padahal mungkin beliau bahkan tidak tau seluruh nama penerima Beswan Djarum atau mungkin tidak akan pernah tau siapa saja. Surat yang diketik sama bawahan Beliau yang mengatasnamakan Beliau bisa membuat seseorang begitu bangga dan sayang terhadap prestasi yang ia terima. Tidak salah, menarik.

Salah satu syarat menjadi Beswan Djarum adalah memiliki IPK diatas 3,00. Berarti selama seminggu itu gue berkumpul dengan orang-orang entah rajin, hoki, pintar, jenius, atau terbantu sistem penilaian kampus yang mudah. Dalam salah-satu video wawancara pelatih choir, Reza, ia mengatakan kalau daya serap anak Beswan itu tinggi. Entah karena video itu ditayangkan di Kompas TV atau karena memang kenyataan seperti itu (hey lihat poin satu syarat jadi Beswan!) ya, nggak tau juga. But from what i see, standar IPK 3,00 itu berbeda ditiap daerahnya. Maksudnya, ternyata dengan serentetan tes psikologi, tes TPA, tes leadership games, dan wawancara untuk mencari sebuah “karakter” serupa standar Djarum, masih aja ada yang anomali. Awalnya gue berfikir kalau nanti orang-orang yang bakalan yang serupa dengan gue, either ambitious, high achiever, over achiever, slengeean, cerdas, critical loh loh kok jadi muji?? Hahaha maksud gue tipe-tipe anak begitu lah, you know she’s it when you see it. Inspite for most of the time gue bertemu dengan orang-orang seperti itu, tapi ada juga yang anomali; slacker, nggak respek, nggak inovatif, dan segala kata nggak yang dimunculkan pada setiap kata untuk deskripsi berlawanannya. Terlebih di Indonesia yang sangat luaaaaaaas dan beragam, standarisasi IPK 3,00 tidak melulu menjadi sebuah “standar”. Nggak usah jauh-jauh deh, banyak temen SMA gue yang kaget terhadap IPK satu anak “lemot” satu ini, ia meraih IPK 3,7 di kampusnya yang sekarang. Seudzon aja itu mah kali ya, tapi begitu juga teman-teman yang punya teman “lemot” lainnya. Hal tersebut menghasilkan asumsi “di kampus itu mah bukannya nilainnya gampang?”. So kembali lagi sebenernya pada standarisasi 3,00 itu tidak menentukan kualitas anak yang sesungguhnya.

Selama NB kemarin juga, gue bertemu like literally Aceh sampai Papua. Bahkan, teman satu scene gue ada yang datang dari Sabang dan Merauke. Lengkap sudah kelompok kami dalam diversitas. Ada hal yang sebenernya gue gatel perihal diversitas ini, hari pertama ketika kami tiba, kami bertemu dengan roommates juga untuk pertama kali. Asyik tentu bertemu teman baru. Salah satu anak dari region Bandung ngirim foto di grup dengan caption “Di kamar gue sih lagi shooting” katanya. Rupanya ia sekamar dengan orang Papua. Tiga hari berselang, dua dari member scene gue “dipanggil” untuk diwawancara, keduanya datang dari Papua. Agak sebal karena Melanesoid dan Austromelanesoid bagaikan hewan eksotis yang diburu oleh tim dokumentasi. Apapun yang dilakukan mereka adalah “unik” termasuk hanya berfoto-foto ria di photobooth. Padahal kalau dipikir ya biasa aja gitu, namun yang dirasa sih masyarakat Jawa (or mongoloid) masih suka terpukau dengan ras lain sampai mereka diburu dan didokumentasikan dengan sedemikian rupa. Gak apa sih, cuman kasian aja. Kasian kitanya, kek liat lumba-lumba di Sungai Cikapundung. Belakangan gue juga baru tahu bahwa beberapa Melanesoid sengaja nggak gabung dengan Mongoloid. Suatu malam di Sixteen-8, gue dan beberapa teman yang baru kenal, keluar untuk merokok di lobby. Kami “instan” akrab dari sebatang rokok, biasalah di indonesia rokok masih menjadi kultur sosial yang meruntuhkan kecanggungan. Tak berselang lama 3 orang datang untuk merokok juga, namun mereka tidak ikut ngumpul bareng gue dan teman-teman lainnya disekitaran asbak. 3 orang Melanesoid terus mengepul tanpa ada percakapan, bahkan saat diajak kenalan mereka hanya mengucap nama mereka lalu kembali ngudud. Gue ngajak mereka untuk gabung ke lingkaran kecil antara gue dan 2 orang lainnya, mereka menolak. Salah satu teman bilang “ya emang mereka mah nggak mau gabung, katanya nggak nyambung haha”. Well memang nggak semua orang bisa nyambung satu dengan lainnya, lah emangnya gue nyambung sama 2 orang yang gue baru kenal 30 menit lalu ini?? “Gatau Al, katanya emang nggak bisa nyambung gitu, makanya mereka lebih suka sama mereka-mereka lagi.” Satir. Entah kita yang terlihat terlalu borjuis atau mereka menganggap diri mereka “eksotis” dan tidak nyaman dengan pertanyaan orang kita. Yah, yasudah lah setidaknya gue punya 2 teman baru yang bisa diajak keluar menghisap tembakau.

Waktu berkunjung ke Kudus, kami berkunjung ke Djarum Oasis Kretek Factory. Ya pabrik beserta eksibisi Djarum lainnya. Sempat diberi penataran tentang Djarum Trees For Life dan keempat pilar Djarum Foundation lainnya. Kami juga diajak keliling lokasi ditemani tur guide bermodalkan toa volume minim. Banyak dari teman-teman beswan yang terkagum dengan luasnya taman dan semua yang instagram-able, tapi gue lebih terfokus pada imajinasi percakapan di meja makan keluarga Hartono ketika kumpul keluarga. 

“Gimana programmu ndo’? Sukses?” ujar XYZ Hartono

“Butuh dukungan sih sebenernya, ada beberapa masalah dibagian publikasi,” ujar LMN Hartono sambil memotong dried-age steak dengan balsamic vinegar 100 tahunnya.

“Masukin aja ke program si OPQ, beswan djarum tuh biar makin banyak yang tau apalagi mahasiswa tuh. Ntar sisanya biar anak buahmu yang urusi teknisnya,”

Haduh kenikmatan hakiki saling bersanding program pemberdayaan masyarakat di meja makan.

Kami semua sadar kok, Djarum kaya. Asyik yah. Pengen rasanya percakapan seberat itu dibawa ringan ketika sudah tidak butuh tau rupiah “nganggur” nominalnya diapakan. Bisa memberdayakan anak muda Indonesia tanpa pamrih minta manpower untuk kerja di perusahaan. Mengutamakan kenyamanan dan pengalaman luar biasa tanpa perduli nominal uang, selama masih rasional, sanggupi. Selama seminggu kemarin juga gue merasa sedang diternak oleh Djarum. Kami punya jadwal “tok” untuk makan. Jam 6-7 sarapan, 9-10 snack pagi, 12-1 makan siang, 2-3 snack sore, 6-7 makan malam. Kadang masih ada yang menganggap makanan kurang dan harus kluyuran malem-malem buat cari makan atau delivery, buset. Selama 5 hari juga makin kaya ternak karena apapun yang disuruh kami lakukan, disuruh turun dari bus ya turun, disuruh makan ya makan, disuruh tidur ya tidur. Paling keliatan adalah waktu bus gue, Ciputra 2 kebelet pipis saat di PB Djarum. Karena tidak ada kordinasi yang jelas antara LO dan EO, kami diberikan izin oleh LO untuk ke toilet. Belum sempat keluar setetes namun sudah diujung tanduk, kami dibentaki dan dimarahi entah siapa itu untuk segera kembali ke bus.

“SURUH SIAPA TURUN! AYO CEPAT KEMBALI KE BUS!” sambil menggerak-gerakan tangannya seperti nyuruh sapi masuk kandang. “Ayo cepat! Ke toiletnya nanti saja! Semua tempat kunjungan kita ada wc nya!” lanjutnya. Karena kejadian ini gue jadi takut tiba-tiba gue lagi jalan di Simpang Lima terus diculik dan organ gue diambil karena sudah “makmur” diternak selama 5 hari.

Beralih ke XL. Seminggu sebelum keberangkatan NB, gue dipanggil untuk tanda tangan kontrak kelas di kantor regional XL. Beberapa pasalnya tertera jumlah nominal yang investasi oleh pihak XL per orangnya di program ini. Terbilang cukup besar kalau dibanding dengan daya beli gue pertahun, tapi sangat sangat kecil untuk “dipamerkan” dalam sebuah pasal program CSR. “Seratus juta” tertulis disana. Besar kecilnya ya kembali lagi pada konteks pembandingnya. Setelah melewati prosesi (alah jiga kondangan wae ieu) NB dan Natcon ada satu hal yang tidak bisa dibohongi; uang siapa yang paling banyak. Banyak orang meyakini kalau uang nggak bisa ngebeli kebahagiaan, well true but money can buy you some facilities yang menunjang kebahagiaan kamu.

Harus gue akuin kalau yang mahal dari XL bukanlah fasilitasnya, namun kurikulumnya. Bersama XL gue berasa dikelas bersama mentor-mentor luar biasa dan modul yang tersusun rapih demi tercapainya 3 outcome utama proyek Global Leaders ini. Di awal pertemuan kemarin aja udah digeber dengan serentan tantangan yang bikin 150 orang ketar-ketir, semua musti mikir, semua musti involve dalam tantangan LEAD Indonesia; role play kementrian dalam pencapaian SGDs. Tantangan role play kemarin bukanlah hal sulit bagi orang yang belajar sosial seperti gue, yang kaya gini “santapan” tiap hari. 

Dengan kondisi badan sangat lelah bertemu dengan orang selama seminggu penuh (dan sekarang harus pretending to like people even more for the next 2 days???!) gue berkenalan dengan rekan satu kementrian gue. Sembari mendengarkan nama dan latar belakang pendidikan mereka, gue dan satu anak politik UI duduk dipaling belakang, kami berdua tau kalau akan menikmati debat endless anak teknik dari sini beberapa saat lagi.

Kementrian kami bertanggung jawab pada pembuatan program untuk mencapai SDGs nomor dua. Entah memang semua mental pemimpin atau karakter anak teknik itu sangat teknikal? Semua menawarkan solusi dan paham implementasi, bukan mencetuskan suatu permasalahan yang harus diselesaikan. “Permasalahan ini terlalu kompleks untuk disederhanakan!” ujar salah seorang rekan ketika kami berdiskusi. Kelompok kecil, mahluk-mahluk dari bidang ilmu sosial dan politik duduk ngurumpuyuk dibelakang ruangan mendengarkan dengan seksama perdebatan, sebenarnya kalau dikaji juga mereka itu mendebatkan solusi, bukan mendebatkan masalah. Momen momen kaya gini bikin gue paham sedikit gaya berfikir anak teknik. Kalau dibawa ke konteks yang lebih kecil, sesederhana membuat acara kampus. Sebut, di Bandung acara gig mana yang diinisiasikan oleh anak teknik yang bagus? Sorry to say, none. Most of events, bahkan micro gig berkutat antara bikinan anak komunikasi, anak fisip, anak mene, anak hukum, atau anak ekonomi. Paling jauh anak seni, tapi mereka punya pasarannya sendiri. Bagaimana cara mereka berfikir itu dipola ketika mereka kuliah.

Inget banget waktu main ke sekre HME pas waktu tpb 2014 baru dilantik. Salah satu menko HME cerita soal kaderisasi himpunan dan bagaimana itu membentuk dirinya yang sekarang. Walaupun se-ITB-eun juga sistem kadernya-lah yang membentuk arogansi himpunan masing-masing, temasuk KMSR yang selalu merasa dikesampingkan dan dibedakan dari anak teknik, padahal nggak juga, kamunya aja yang nggak  mau blend-in, berasa quirky. Kalau dibawa keranah nasional, mungkin mulai bisa dipahami ketika orang teknik menjabat politik, mereka akan mencari solusi sebelum mencari titik sebuah masalah untuk diselesaikan. The blue collar and white collar thingy. Sebenernya nggak salah juga kalau ada yang bilang anak ipa mah nantinya jadi tukang, well half of that is true but the other half ya gimana cara pembawaan masing-masing individunya. 

Kembali lagi ke Natcon XL. Sekali lagi, yang XL jual gue rasa bukan lah fasilitas namun kurikulum. Entah bagaimana dari tahun ketahun, tapi yang gue rasa kemarin EO nya cukup kacau. Tidak ada jadwal, tidak ada kejelasan kami menginpa dimana, tidak ada kejelasan rundown, dan gelagat nge-sok (tapi baik kok aslinya, cuman gelagatnya aja rebek). Karena kemarinnya sehabis diternak oleh Djarum, ketika merasakan Natcon XL kemarin berasa di downgrade kelas penerbangan dari first class menuju ekonomi. Sedih memang. Gue sempet cerita soal perbedaan dua EO di dua acara ini, sebagai yang punya EO di Jakarta dia cerita kalau ada dua sistem pemilihan EO ketika suatu perusahaan. 

Sistem pertama adalah “Most” yang kedua adalah “Bidding”. Dalam sistem most, biasanya perusahaan memilih EO paling bagus kinerjanya tanpa terlebih dahulu memikirkan biaya yang harus dibayar, ketika memenuhi standar minimum untuk terselenggarakannya acara maka langsung dibayar. Sementara sistem bidding merupakan “lelang” yang mana EO paling murah dengan kualifikasi maksimal. Bagi teman-teman beswan yang kebetulan terpilih jadi XLFL juga pasti tau which one is which, you are starring at the obvious. Dengan sistem ini gue paham kalau XL masih hitungan perihal pengeluaran dana untuk CSR.

Gue tau, XL jika dibandingkan dengan perusahaan Djarum tentu kalah, dari jumlah keuntungan, dari tenggat berdiri, dan lain sebagainya. Mereka juga datang dari perusahaan yang berbeda pula. Maka, sebenarnya nggak layak untuk dibandingkan. Kalau mau bandingkan XL ya sama Telkomsel atau Indosat lah kalau Djarum dengan program dari PMI. Nah tapi ini mah kan ya pembanding bagaimana gue merasakan kedua program tersebut, jadi ya layak-layakin aja, ambil aspek yang bisa di bandingkan. Dari segi kepemilikan juga bisa menentukan bagaimana suatu program terimplementasikan. Djarum merupakan perusahaan keluarga, ya walaupun mungkin ada selek-selek dikit antar sodara pemilik program Bakti Djarum Foundation tapi nggak bakalan sebeda perusahaan merging internasional dengan komisaris komisaris yang punya kepentingan masing-masing terhadap implementasi program seperti XL Axiata. But both was fun and very usefull not to mention exhausting.

Kalau ditanya senang atau tidak? Jawabannya lelah. Rasa senang menurut gue akan muncul berbarengan dengan nostalgia pasca acara. Seperti sekarang dan mungkin nanti. Sialnya program beswan hanya bertahan satu tahun, kemudian kita akan melepas semua kenangan ketemu sama 525 orang di Semarang karena itu hanya terjadi satu kali dalam seumur hidup menghabiskan 5 hari bersama mereka. Sementara XL bertahan 2 tahun dengan kelas perduabulan di region masing-masing. Pada momen seperti ini gue paham bahwa Tuhan adalah pembuat skenario terbaik, digagalkan ekspedisi karena alasan “terlalu berkepemimpinan tinggi” dan malahan dapat dua pembuktian bahwa gue memiliki sifat itu, hanya kurang terasah. Well, untuk kalian yang berminat mengikuti either or kedua program ini ya ikuti lah dan rasakan kebanggaan masing-masing pas diputer statistik penerimaan. Nggak gue nggak bakalan ngasih jawaban untuk “kak seleksi beswan djarum gimana sih? susah ya?” nggak. Baca blog sebelah aja, jangan baca blog gue.

photo by: Beswan 32, it’s in the album nggak tau punya siapa ehe.

Advertisements

4 Comments

Add yours →

  1. kak seleksi beswan djarum gimana sih?

    Liked by 1 person

  2. kak emang boleh ya lolos beswan dan juga ambil future leaders nya xl? soalnya saya daftar 2 dan dua2nya lolos.. terima kasih kak..

    Like

    • Prinsipnya adalah untuk tidak menerima beasiswa dari perusahaan kompetitor, alasannya sederhana: etika. Misalkan kamu menerima beasiswa dr XL (program global leader) baiknya tidak mengambil beasiswa dari perusahaan telco lain (NextDev etc). Begitupula dengan Djarum, tidak menerima program dari perusahaan kretek / FMCG lain. Karena diangkatan gue sempet ada yang dapet dari perusahaan yang sama, ganjarannya apa? In extreme case ya beasiswanya dicabut, sisanya hanya reputatational cost aja ya tp tetep aja hehehe

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: