Kylie Jenner: “2016 is the year of realizing stuff”

Gue adalah satu dari jutaan orang yang menganggap 2016 adalah taun janggal dan penuh drama dalam duapuluh tahun gue hidup disini. Tapi sebagaimana Kylie bilang “I feel like this years is really about, like the year of realizing stuff…” despite bilang bahwa taun 2016 merupakan tahun shitty, tahun kemarin merupaka sebuah pembelajaran untuk memahami dan menyadari sesuatu. it’s like (again) seeing another perspective of how shitty things work. Well meski sudah lewat beberapa hari dari primetime seharusnya tulisan ini dipublikasikan, namun duabelas bulan; tigaratus enampuluh lima hari di tahun lalu gue menyadari bahwa,

  1. Be The BEST version of ourself

Highlight terpenting dari setahun kemarin merupakan momen jatuh bangun sebuah harapan dan ekspektasi yang (mungkin) terlalu berlebihan. Ketika gagal, mayoritas memiliki tendensi untuk membandingkan diri dengan orang lain, gak usah jauh-jauh deh, gue juga gitu kok. Ketika gue gagal, gue membandingkan diri gue dengan mereka yang sukses di satu bidang, sering kali mengeluarkan “that’s should be me anying!”. Lalu mematok kesuksesan dari mereka. Mulai nonton TED Talks, Brightside, ato baca infografik tentang bagaimana mencapai kesuksesan. “How successful people start their morning”, “Just like Steve Jobs”, atau artikel-artikel lain yang cukup motivasional untuk membangun kepercayaan diri. Setiap orang punya cara suksesnya masing-masing, Nikola Tesla hanya butuh tidur 2 jam untuk menemukan arus AC, lampu neon, remot kontrol dan penemuan fantastis lainnya. Tapi Wolfgang Mozart biasa tidur 5 jam untuk nantinya menghasilkan simfoni legendaris. Ya kalau kalian butuh waktu tidur 7 jam untuk bisa produktif kenapa harus memaksakan ikut pola Tesla hanya karena kalian anak elektro? Tapi jangan malah tidur 7 jam atau 10 jam lebih dan nggak produktif, itu mah namanya pangedulan! Kunci lainnya adalah produktifitas. Tah, maraneh produktif teu after sare teh?

2. Tuhan adalah pembuat skenario terbaik

Tahun ini gue disadarkan bahwa apapun yang terjadi di depan, itu sudah ada jalannya asalkan kita mau mengusahakannya. Mungkin terdengar sangat rohani dan cheesy abis, tapi ya sebagai manusia gue mempercayai bahwa dalam berkehidupan kami harus memiliki suatu suprapower non-manusia; Leviathan ibaratnya, ya Tuhan itu lah. Dalam agama gue, katanya nasib sudah ditentukan sejak lahir, bagaimana kita mati, jadi apa kita nanti, jodoh kita, dan lain sebagainya juga sudah ditentukan. Well kalau gitu kenapa kita harus berusaha kalau nantinya juga sampai pada tujuan yang “sudah ditentukan” tersebut. Nah, disisi lain, kami juga punya istilah ikhtiar atau usaha. Gue mempercayai bahwa jalan itu nggak cuman satu, semakin kita banyak mencoba, banyak usaha, dan banyak tau, semakin “banyak” pula jalan-jalan yang terbentuk. Usaha tidak pernah mengecewakan katanya, kalau usaha kita dibidang satu gagal ya bukan berarti satu-satunya harapan pupus, one door close another open.

3. You don’t need relationship if it wasn’t the serious one

Gue bukan tipe orang yang telalu memikirkan bagaimana menjawab pertanyaan “udah punya pacar belum” saat kumpul keluarga tapi semakin bertambahnya usia, semakin banyak yang ingin tau juga padahal bukan urusan mereka. Orang-orang mulai cari asal-asalan dan terlalu mudah bilang sayang. Memasuki usia 20 tahun, banyak dari teman-teman (dan temennya temen) yang nyebarin undangan pernikahan. Banyak juga dari teman-teman yang masih berjebak drama pacaran anak remaja; putus nyambung, berantem nggak penting yang biasanya karena salah satu pasangan asyik sendiri dan lupa kalo punya pacar, ato apalah masalah picisan yang menurut gue sebenernya nggak perlu dibesar-besarin. Tahun 2016 kemarin juga gue sering banget denger jomblo jokes dari internet platform Indonesia macam 1cak ato akun OA receh. Menariknya, banyak orang yang terhibur dan membawanya ke dunia nyata sembari ngejek “buset hari gini masih jomblo?” ato jokes satir gagal seperti “ya, udah gapapa mungkin jodoh gue belum lahir” dan “yah apaan deh gue mah ta’aruf aja”. Dalam salah acara Glamour Magazine, Michelle Obama mematahkan semangat juang para perempuan yang terjebak dalam pertanyaan kepo sosial terhadap stigma cari jodoh diusia muda. Katanya 

“if i worried about who liked me, who thought i was cute when i was your age, i wouldn’t be marry to the President of the United State today.”

walau dalam acara ini konteks pidatonya adalah tentang edukasi dan menumbuhkan self-esteem, tapi gue rasa cukup masuk kedalam konteks masyarakat muda disekeliling gue yang haus dan akhirnya terjebak sama cinta-cintaan. Menurut gue, dalam sebuah hubungan yang terpenting itu bukan rasa sayang tapi kemampuan seseorang untuk memahami kebutuhan satu sama lain yang disubstitusikan agar tetap menjadi utuh, ya itu cinta. HOEEEK.

Pernyataan ini sebenernya bukan cuman berlaku untuk pacaran, menurut gue istilah toxic friend juga masuk kedalam poin ini. Mereka-mereka yang dekat dengan kita kalau ada maunya, parasif, ya pokoknya yang jelek-jelek lah kalo kata internet mah.

4. You can lie to yourself and that is not a good thing to do

Semua orang bisa bohong, termasuk kepada dirinya sendiri. Namun apa yang lebih menyakitkan dari membohongi diri sendiri ketika sadar secara penuh dan paham bahwa hal tersebut merupakan sebuah kebohongan. Misalnya ketika gue gagal, selalu ada pelatuk untuk mengatakan “yea, gapapa kok sans ae. nggak biasa aja kok gak sedih” padahal sedih banget astaga tapi sok tegar supaya nggak cirambay atau terjebak nostalgia. Well stop denying shit and accept the fact, stop lying to yourself karena akan jauh lebih menyakitkan dari pada dibohongi oleh orang lain.

5. Thousands acquaintances, zero enemy

Dalam konteks politik luar negeri era SBY bisa dibilang konsep thousands friends zero enemy merupakan hal yang sangat idealis, ya maksudnya mana mungkin lah punya banyak teman dan nol musuh. Bahkan Jokowi yang paham politik luar negerinya nol saja mengubah PLN ini dengan sedikit nyepet SBY, “ngapain punya temen banyak kalau merugikan”. Ya, makanya lebih baik punya banyak acquaintances ketimbang friends. Di tahun 2016 kemarin, berbekal dari kerja di ROI setengah tahun dan menjadi music director di salah satu radio membuka gerbang untuk masuk kedalam dunia musik dan film independen. Dari pengalaman tersebut nggak banyak temen yang gue dapet, cuman satu dua itu juga cuman sekedar “teman perskenaan” alias teman-teman yang jadi teman hanya saat di gig saja. Gue menyadari bahwa kita nggak butuh temen (as in beneran temen yang hang out barengan diluar aktivitas A) tapi kita perlu banyak kenalan, untuk link nantinya. Maka dari itu impresi menjadi hal yang sangat krusial. Gue sedari SMA nggak pernah secara blak-blakan musuhan atau benci sama orang karena ada ketakutan sendiri kalau misalkan gue akan butuh orang itu suatu hari nanti. 

Salah satu rekan radio kampus pernah menceritakan temannya yang ia anggap aneh karena punya konsep “ring” dalam pertemanannya, seperti dalam struktur kabinet kampus. Ring 1 merupakan orang-orang yang bisa dibilang paling dekat; sahabat dan keluarga, ring 2 teman-teman cukup dekat tapi tidak intim, ring 3 teman satu hobi, ring 4 dan ring-ring selanjutnya. 2016 membuat gue sadar bahwa kita tidak perlu lebih dari 5 orang dalam Ring 1 kita, karena emosi dalam ring tersebut memiliki tendensi lebih kuat ketimbang ring setelahnya. Dalam psikologi kelompok, semakin banyak jumlah anggota kelompok maka makin tinggi pula tingkat ketidak percayaan satu sama lain, secara logika tandanya kita tidak membutuhkan banyak orang di ring 1. Cintai, hargai, dan berikan waktu pada orang-orang di Ring 1, meski beda jarak dan jarang ketemu, tapi ikatan diatara orang-orang didalamnya merupakan sebuah jalinan intim yang biasanya terbentuk selama lebih dari tujuh tahun.

Ya walau sudah lewat 10 hari dari hari terakhir 2016, seperti idola remaja tersohor di tahun tersebut, it’s a year of realizing stuff. Jadi, apa yang kalian sadari di tahun 2016 yang bisa memotori resolusi (yang gak tau akan kecapai apa nggak) di tahun 2016 ini? Untuk gue, 2017 adalah tahun kolaborasi, JADIKEUN!

photo: screenshoot from Kylie’s video

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: