When you can smell your home scent

Diawal bulan Januari kemarin sempat melakukan reuni kecil-kecilan dengan teman SMA. Hari itu hari kerja, gue datang sepulang kerja pula pukul setengah 8 malam. Kami hanya bertemu dua kali dalam setahun; liburan semester baru dimana kita nginep di villa dengan teman-teman sekelas SMA selama 2 hari dan sekali di bulan Januari ketika beberapa dari kami pulang ke Bandung. Tidak banyak yang berubah secara fisik, cuman cerita yang makin beragam karena banyak naik turun selama 6 bulan semenjak kami bertemu. Tapi satu hal yang tidak pernah berubah yakni kalimat pembuka ketika gue datang ke ruangan

“Yak, ini dia si ibuk paling sibuk sedunia!”

Sebenarnya gue nggak pernah merasa diri gue sibuk, gue hanya suka beraktivitas, bertemu orang, dan melakukan sesuatu simply because i like it. Ketika kami bertukar cerita, selalu muncul pertanyaan “maneh nuju sibuk naon wae?” (lo lagi sibuk apa aja?) masing-masing dari kami bercerita mulai dari kehidupan kepanitiaan, perjuangan menjadi ketua himpunan atau kepresidenan, mulai cari kerja sambilan jadi supir Uber, atau kebiasaan dari semenjak SMA yang malah berkembang (seperti bisnis MLM temen yang semenjak SMA gitu gitu aja hahaha). Sembari memaparkan kesibukan gue, ketika itu sekalian membandingkan dengan kesibukan yang lainnya. Nggak seperti biasanya, gue kali ini benar-benar merasa memiliki jadwal sangat padat ketimbang mereka. Biasanya setelah gue cerita, ada satu atau dua orang berkomentar “anjir Al, maneh teh asli sibuk pisan” (Anjir Al, lo tuh beneran sibuk banget) atau “Aing teu ngarti sia Al naha maneh bisa sibuk kitu bari kuliah jalan” (Gue nggak ngerti deh Al, lo kok bisa sibuk tapi kuliah tetep jalan). Biasanya respon kaya gitu cuman gue ketawain aja karena gue juga ngerasa apa yang gue jalani itu kaya ya biasa aja. Tapi setelah gue pikir-pikir gue semester ini punya sisa 29 SKS untuk satu setengah tahun kedepan, gue bekerja di tiga kantor berbeda, dan menjabat 3 posisi berbeda di birokrasi baik kampus maupun luar kampus. Gila juga yak kalau berhenti dan merenung sejenak. 

Sepulang dari reuni tersebut gue pulang kerumah mencium aroma yang cukup ngangenin. “Aroma rumah”. Gue tau kok beberapa orang punya bau-nya sendiri, ketika gue main ke rumah temen deket gue, gue bisa mencium aroma rumah mereka yang cukup serupa dengan aroma yang melekat di badan mereka. Kita tidak bisa mencium aroma diri kita sendiri karena sudah terbiasa dengan bebauan tersebut. Makanya masyarakat yang tinggal di sekitaran tempat sampah tidak merasa kebauan seperti kita yang datang berkunjung ke tempat mereka. Malam itu gue mencium aroma rumah gue sendiri, aroma kamar gue, dan aroma baju-baju gue sendiri. Malam itu pula gue sadar bahwa gue telah terlalu sibuk sampai lupa aroma diri gue sendiri.

Semenjak pertengahan 2015, gue berkontribusi di suatu media independen Kota Bandung sebagai seorang reporter. Awalnya ingin bergabung karena ingin menjadi music director di segmen radio-nya, namun ternyata lagi vakum lalu dipindahkan ke bagian zine menjadi seorang reporter. Di pertengahan 2016, gue berkontribusi di satu event organizer Bandung buatan mahasiswa manajemen UNPAD dalam membuat kelas-kelas penunjang kreativitas masyarakat Bandung, menjadi bagian kreatif; si yang bikin mata acara dan ngontak-ngontak orang. Di akhir tahun 2016, gue mulai bekerja sebagai staff marketing salah satu creative space di Bandung yang dibawahi oleh salah satu restoran tersohor dan hype di Bandung.

Memenuhi keinginan dari tiga perkejaan berbeda, ditambah harus mengkoordinir anak buah di 3 birokrasi berbeda, dan lagi menlahap 23 SKS yang mana 8 diantaranya penunjang tugas akhir bikin gue jarang hadir di rumah. Hampir setiap hari gue berangkat pukul 9 dan pulang pukul 12 malam. Rumah benar-benar hanya untuk tidur dan makan pagi oatmeal dan susu. Kedua orang tua gue juga kemarin-kemarin ini jarang ada di Bandung sehingga rumah lebih sering kosong dari pada ditinggali. Ketika awal-awal merasakan ritme kehidupan seperti ini, sering kepikiran “wah, nanti kalo gue udah berpenghasilan gede, rumah gausah gede-gede ah” atau “ntar mah tinggal di apartemen aja kali ya” karena merasa berminggu-minggu tinggal sendiri di rumah itu sepi, bosan, dan lagi pula harus ketemu klien dan rapat ini itu. Buat apa punya rumah yang tidak ditinggali.

Suatu malam, gue pulang cukup larut. Ketika masuk ke rumah gue mencium suatu bau yang tidak familiar. Karena takut maling gue masuk perlahan-lahan sampai sadar bahwa aroma tersebut adalah aroma rumah gue sendiri. Entah kenapa pada titik tersebut gue sadar apa yang dimaksud teman-teman gue dengan “sibuk”; ketika benda, tempat, dan aroma familiar menjadi asing sementara yang asing adalah yang biasa. Rumah yang dulu terdefinisikan dengan tempat berkumpul keluarga, sekarang menjadi tempat singgah gratis tiap malam seiring dengan semakin dewasa para penghuninya. Namun ketika sedang jenuh-jenuhnya, rumah menjadi sebuah tempat paling nyaman untuk berlindung.

Satu hal lain yang gue sadari dari menjadi sibuk adalah kehilangan waktu kebersamaan. I mean, me and my family is the wolf type of family. We run places in pack so well, by me becoming very busy, (which most of the time they already are busy) gue kehilangan waktu untuk bahkan sekedar makan pagi atau nge-teh bareng di sore hari. Dari sini gue paham kenapa kalau dulu bokap gue pulang dari hutan, all he wants is to hang out with all of us. Because he misses the scent of home, he misses us, he misses the memory of being together. Ketakutan juga mulai muncul ketika ingat kalau nenek-kakek kita juga merasakan kesepian itu, meski mereka di rumah tapi “aroma-aroma” yang pernah ada sekarang sudah berubah dan pergi jarang kembali, lebih parah, itu akan terjadi kepada kedua orang tua kita, dan kita puluhan tahun kedepan. Psychologically some scents linger memory upon the person, ketika kangen rumah sebenernya yang kita kangenin bukan bangunan secara fisik, tapi kenangan, aroma, dan kenyamaan ketika kita tinggal didalamnya. When you can smell your own house aroma, that’s when you know you’re waaaay to busy. 

So, come back home once in a while, to just recall the scent and make it familiar again. Because it triggers positivity.

photo: couturing.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: