Gak Suka, Tapi Gak Nolak

Beberapa waktu yang lalu gue diajak untuk pergi naik salah satu gunung di daerah Jawa Tengah. Gue bilang “hngg nggak deh, gue nggak suka naik gunung,” sontak membuat teman-teman gue yang mengaku mountaineers ini mengeluarkan celotehan mautnya

“Lo nggak pernah naik gunung ya Al? Wah parah sih, lo harus nyobain deh meningan sekali! Naik gunung tuh bener-bener mengubah hidup lo, lo jadi bisa berkontemplasi terus pokoknya worth it banget lah!”

Kira-kira begitulah bunyinya. Saat itu gue hanya merespon dengan ketawa awkward sembari mencoba mengalihkan pembicaraan gunung dari pada snob ini.

Gue termasuk orang yang sangat secretive soal hidup gue, bahkan banyak dari temen gue yang nggak tau banyak hal padahal udah temenan lebih dari 10 tahun. Kalau yang temen lama aja nggak tau banyak, gimana yang baru setahunan? Intinya sih pengen gaplok “Nggak nyet, gue pernah naik gunung, bahkan peak pertama gue itu pas umur 7 tahun dan masih sering naik gunung waktu gue SMA. Gue hanya tidak menemukan kebahagiaan gue disana. Gue lebih suka maen air.” Semenjak hype 5 cm, gue merasa (diangkatan gue) kegemaran naik gunung meningkat. Terlebih munculnya arena buat ajang pamer kekinian di internet membuat semakin-semakin. Kalimat “Lo udah pernah naik gunung x belum” seakan menjadi justifikasi akan kekerenan / kejantanan / atau kekinian anak muda indonesia yang “harus” mencintai alamnya.

Seringkali gue bingung dengan orang-orang yang telalu memaksakan orang lain untuk menemukan kebahagiaan atau ketenangannya di gunung. Bilangnya gunung itu tempat sakral, trek gunung itu definisi usaha sementara puncaknya adalah buah manisnya. Memang, naik gunung itu bisa membuat seseorang mengenal dirinya atau rekannya lebih baik. Semua kegiatan alam terbuka seperti itu. Namun, nggak perlu memaksakan orang lain untuk menikmati apa yang kalian anggap nikmat.

Sama saja dengan menu pilihan minuman. Kalau gue suka kopi manis, kenapa gue harus ikut hype memesan americano no sugar. Lah kan yang minum gue ya??! Lagipula gue bukan tipe orang yang naik gunung untuk hype atau “mencari jatidiri” kalau kata kebanyakan orang mah. Gue merasa sudah menemukannya sejak lama, gausah dicari lagi.

Gue hidup 20 tahun lebih dengan sekelompok orang yang selalu pergi naik gunung diakhir minggu atau mejalankan ekspedisi dan eksplorasi pembukaan jalan di lokasi antah-berantah. Bokap gue sendiri merupakan peneliti dan arkeolog, kerjaannya naik turun gunung, keluar masuk hutan dan goa. Tante gue peneliti terumbu karang yang tiap akhir minggu menyelam untuk lihat kualitas terumbu karang di pantai depan rumahnya sampai 8 kilo jauhnya. Dua orang paling dekat dengan gue merupakan orang lapang yang sering mengajak gue ke arena kerjanya.

Gunung hutan merupakan medan yang menarik tapi bukan untuk berkali-kali bagi gue. Berjalan kali belasa kilo meter, berdiam diri, membuat tenda atau hammock, menebas pepohonan, menepis serangga, atau mencari tabung oksigen kalengan karena bengek bukan sesuatu hal yang gue doyan. Tapi bukan berarti tidak mau. Melainkan, kalau punya pilihan lain, mening surfing dan diving 30 meter bareng ikan pari di Selat Lombok atau mengarungi jeram di Citarum atau baca buku di halaman belakang atau foto foto hewan endemik di taman nasional.

Kadang suka sebel dengan stereotype seperti itu. “Gunung adalah rumah” ya buat lo aja, gausah maksa jadiin rumah buat orang lain juga dong. Terus kadang di kata-katain pula, “ah elo mah nggak pernah naik gunung aja makanya bilang gitu!”. Iyadeh yang baru naik Ciremai dan 3S. Jangan sombong dulu atuh, sok sana ngobrol sama Mathilda.

Oke, rasanya nggak adil kalau gue berkata-kata tentang semua orang yang cinta gunung itu snob. Emang harus diakui, semua orang menjadi lebih akrab ketika di gunung. Dua minggu lalu, gue nemenin seorang temen asal Jakarta yang baru pertama kali naik gunung. Kami mendaki Prau, tidak begitu tinggi namun medannya cukup menantang; makanya banyak yang memerawani dirinya disini. Percakapan ringan seperti “ayo semangat, pos dua dikit lagi” atau “sini mba, ngopi dulu sama kami” memang ngangenin. Muncak ecek-ecek selalu memberi pengalaman “social-climbing” sesungguhnya. Mana mungkin kita nemuin orang ngopi sambil ngerokok pas mau ke Carstensz? Well ya mungkin, nggak tau, nggak pernah kesana hehe. Semua orang terkesan jadi keluarga ketika kami mendaki dan kami juga jadi motivator ketika turun,

Widha-Puncak
Akhirnya nyampe juga di puncak

“Semangat mba, puncaknya dikit lagi kok!”

Kalimat itu hampir jarang ditemukan ketika melakukan kegiatan outdoor lain. Iya, iya oke. Naik gunung itu menyenangkan dan bisa menjadi salah satu kegiatan sosial yang menyenangkan, bisa dilakukan sendiri atau sekelompok gede. Tapi nggak usah merasa superior terhadap pengalamannya bergunung-gunung ria dan jangan menganggap semua orang harus ke gunung untuk menemukan dirinya. Manusia berhak memilih terhadap apa yang ia panggil rumah. Entah itu sebuah bangunan beserta kenangan masa kecil, seseorang, suatu tempat, atau sebuah hal imajiner. Biarkan manusia memilih apa artinya pulang.

Featured image: 2 dari 5 Gunung yang bisa diintip dari puncak Prau. Diambil dengan Contax 1936 yang ketinggalan di luar tenda suhu 5 derajat. Berembun…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: