Why Do I Fell For This Kind of Humidity?

Kami berbincang cukup lama malam itu. Agak sedikit ngalor-ngidul karena sudah mabok soda dan MSG resto cepat saji. Satu pertanyaan tiba-tiba keluar, “kenapa sih lo sering banget main ke Surabaya?” Kebetulan gue nggak tau jawabannya kecuali, “temen gue disini.” Jawaban sesungguhnya mungkin agak sedikit lebih kompleks.

Gue bukan orang Surabaya, nggak punya keluarga disana, belum pernah ke Surabaya untuk singgah lebih dari semalam sebelum 2015, ataupun punya rekanan orang asli sana. Diawal tahun 2015, gue menghabiskan 3 hari disana, itu juga hanya untuk istirahat sepulang berkemah di gunung. Satu-satunya orang “lokal” disana itu seorang teman lama yang sedang berkuliah disana. Dia mengantar keliling kota dengan hanya berbekal kemampuan mengingat jalan sekitaran Dharmawangsa dan status “lokal” yang diraihnya pasca setahun lalu pindah ke Surabaya. Alhasil, kami semua terjebak jalur satu arah, muter-muter jalan yang sama, dan ditilang polisi demi mengisi 5 bar bensin sebelum pergi buat lihat Suramadu.

000008
Kampus gue lagi direnov kala ini. Nongkrong disini bikin ngerasa jadi “anak kampus”

Malamnya karena ragu dengan status lokal teman tersebut, kami kopdar orang lokal beneran yang baru kami via internet selama setahun. Kami lewat jalan-jalan cukup lebar, gue sendiri nggak pernah liat jalan seperti itu kecuali di Jakarta. “Ini hotelnya bagus, tempat bendera Belanda dirobek birunya,” ujar dia. Bangunannya agak mirip Museum Nasional tahun circa 2003 sebelum direnovasi. “Ini salah satu toko es krim terkenal disini”.” Ini kantornya Bu Risma”.”Disini tempat biasa orang hangover makan, buburnya buka sampe jam 3 pagi. UEEENAK POLL!”. Dititik itu gue tersadar akan satu hal yang membuat unconsciousness gue terus mendorong untuk selalu kembali ke kota ini. Gue nggak tau apa-apa tentang Surabaya.

Dulu waktu masih kecil, gue sering bolak-balik Yogyakarta / Magelang. Seluruh titik pariwisata sudah hatam, bahkan sampai hal-hal kecil yang gak penting-penting amat aja tau. Itu semua karena kakek dan bokap gue meneliti candi Borobudur dan makam keluarga mereka ada di Magelang. Gue selalu melihat bokap gue sebagai wikipedia, ia tahu hampir seluruh jawaban dari pertanyaan gue.

 “Dalam arca Borobudur, kenapa ada banyak sekali orang dalam satu panel?”

“Itu merupakan bentuk animasi kuno, ukirannya ingin menjelaskan bahwa karater tersebut bergerak sehingga dibuat seolah olah terlihat banyak.”

“Kenapa Yogyakarta sangat kental dengan budaya nongkrongnya?”

“Ah masak sih? Mungkin faktor geografis, angkringan-hopping merupakan kultur untuk saling update kehidupan lewat secangkir kopi dan tusukan sate telur puyuh atau kulit goreng. Lagi pula Yogya hangat, nggak kaya Bandung. Jadi kalo duduk lama-lama mungkin gak masuk angin.”

Namun ketika pertanyaan, “Kenapa gerakan kepahlawanan harus di mulai di Surabaya?” ia tidak bisa menjawab. “Wah, kenapa ya?” lah, malah nanya balik.

Gue tidak pernah berniat untuk meninggalkan hati di Surabaya. Maksudnya untuk apa? Orang sering kangen dengan Bandung karena udaranya yang dingin, orangnya yang ramah, kotanya yang asri. Gue akan dibilang gila kalau melepaskan keseharian gue untuk meninggalkan hati di kota yang dua belas derajat lebih panas, 800 meter lebih rendah, dan 60% lebih lembab dari Bandung. Yang gue tinggalkan adalah rasa penasaran akan apa yang identitas dari kota ini. Diantara seluruh kota yang gue kepoin, kenapa ada satu yang belum gue paham.

Sampai suatu hari di April 2017, sebuah acara memaksa gue untuk hadir menikmati sumu Surabaya selama sepuluh hari. Idih, lengket. Surabaya minggu itu mendung dan sering hujan, rambut gue mulai ngembang karena kelembabannya melebihi kadar ke “badai”-an rambut biasanya. Satu malam gue mengikuti rapat di salah satu pujasera ala The Kiosk bersama segerombol orang yang gue nggak kenal sama sekali kecuali teman lama gue. Kami berbincang tidak banyak, seputar kerjaan. Gue lebih banyak menghabiskan waktu untuk berusaha memahami Jawa Surabaya yang pletak pletok ketimbang fokus substansi rapat, “ngomong apa ASTAGA YAWLOH” pikir gue. Akhirnya gue cuman cengengesan karena cuman paham “yaudah nanti kita obrolin di rapat selanjutnya.” Malamnya kami lanjut untuk makan es krim dan makan pecel lele dipinggir jalan, gue mulai bertanya-tanya kembali soal kultur manusia di kota ini. Sayangnya dua bocah yang keluar bersama gue malam ini adalah orang Jakarta yang kuliah di ITS kesehariannya naik mobil kemana-mana dan sejauh-jauhnya jalan adalah ke airport.

000012 (2)
Two of my favorite classmates in Unair

Esoknya gue sit-in di kelas Gender FISIP Unair, alibinya untuk riset paper tapi nyatanya mencari mangsa-mangsa. “Eh, unair sih isinya mas mas jawa semua gak ada selera lo,”bisik teman gue. Wow stereotyping enough lol. Kejadian paling menarik dimulai ketika gue masuk kelas dan mendadak kuis, ASUUUUUUUUUUU. Gue kembali menjebak diri gue diantara sekumpulan manusia beraksen asing tapi ternyata seninya disini. Dalam diskursus kuis kelompok, gue memahami beberapa perspektif yang tidak biasanya gue temukan di anak-anak Bandung atau Jakarta. Mereka punya referensi berbeda dalam memecahkan masalah, pendekatan yang menarik, dan solusi yang membuat gue cukup tercengang. Diskusi hari itu berakhir dengan kita berusaha saling kenal lewat pendapat pendapat akademis untuk membuat sebuah poster mini yang kemudian dipresentasikan. Sialnya, ketika sudah mulai menemukan orang-orang yang sekitanya dapat menjawab pertanyaan, gue harus balik ke Bandung karena ada sidang.

Tiga bulan berselang, gue merencanakan kembali menjelajahi  Surabaya sekalian mengisi Ted Talk bulan Oktober disana. Gue meminta rekanan lokal yang doyan foto untuk menyempatkan waktu hunting foto, kebetulan gue sangat suka dengan style fotografinya.

Ketika Oktober datang, gue menyempatkan untuk main sebentar dengan teman-teman baru dari Ted Talk. Kami duduk duduk santai sembari ngobrolin kehidupan kampus Jawa Timur, tentang bunga-bunga yang yang mekar di Jalan Raya Gubeng, dan cara menikmati Surabaya walaupun panasnya minta ampun. Gue melihat bagaimana melihat hal kecil menjadi suatu hal yang bisa bikin bahagia, hidup mahasiswa bahagia hanya seperti makan nasi dengan bubuk koya soto Cak Har atau kriukan nasi padang di Karang Menjangan.

Sebagai orang yang berada di circle manusia “mampu” beli cafe latte di third wave coffee shop, sering kali gue tidak bersyukur ketika menikmati hal hal kecil. Gue mungkin tidak akan merasakan nikmatnya remah-remah Sabana, karena gue tinggal di rumah yang makanannya lebih enak atau bisa minta nyokap untuk beli McD.

Hal lain yang membuat gue takjud adalah betapa gue merasa open-minded nya gue sampai-sampai merendahkan orang lain. Maksudnya begini, gue tinggal di Jakarta- Bandung selama 20 tahun lebih, bermain dengan manusia yang kelas, perspektif, dan pendapatnya sama sama aja kaya gue. Orientasi gue sebagai masyarakat Barat pulau Jawa pasti selalu internasional. “Gue harus lebih baik dari pada orang Singapur,” “Gimana sih caranya gue bersaing dengan lulusan UK.” Ini sih gue aja yang merasa orang-orang di Barat merupakan orang-orang yang lahir with silver spoon dan akses yang mudah ke hampir segala hal. Tapi gue salah.

Gue lebih banyak dapat bahan untuk tesis dari teman UNAIR ketimbang gue datang ke Jatinangor untuk research. Gue lebih banyak dapat kontra terhadap opini gue yang membuat gue lebih mendengarkan dan memahami ketimbang menaikan self-esteem karena semua orang selalu setuju. Gue lebih menemuka orang-orang yang extreem kiri / kanan ketimbang teman-teman gue yang cenderung apatis soal kondisi sekitar. Luar biasa. Luar biasa gue kurang main ke circle lain.

Esoknya gue bertemu dengan rekanan lokal untuk foto hunting. Dia mengajak gue untuk plesir di daerah Ampel. Lumayan jauh dan bikin pantat pegel, naik motor dari ITS ke arah utara. Sepanjang jalan ia menceritakan tentang kultur underground nya Surabaya. Mereka sudah nyaman dan tidak butuh publikasi karena tidak ingin asing. Mungkin itu yang gue tangkap.

Hampir mirip dengan Jakarta yang terlalu luas. Gaya anak JakSel mungkin agak sedikit berbeda dengan JakBar. Sama seperti disini. Masing masing arah mata angin sudah punya kegemarannya sendiri, komunitasnya sendiri dan kegiatannya sendiri. Kota ini terlalu besar dengan masyarakat yang ternyata luar biasa diverse.

000023
Treasure

“Selamat datang di daerah Arab nya Surabaya,” ujar rekanan gue. Kami menyusuri gang gang kecil penuh jajanan macam di Pasar Balad, Jeddah. Hampir seluruh pedangnya keturunan Timur Tengah / Asia Barat. Termasuk anak-anak yang baru keluar dari TPA, berlarian sembari makan es krim. Mungkin sudah jelas mereka keturunan orang-orang yang ikut pindah kesini saat Sunan Ampel mulai menyebarkan agama. Hari kami berakhir dengan melihat segerombolan orang menyerbu masjid meski baru Azan.

“Sayang, keretamu jam 7 malam ya? Terlalu sebentar! Mungkin nanti kamu harus lebih lama disini. Kita ke makam orang-orang Belanda yang pernah mengokupasi Surabaya. Kita lihat perahu-perahu singgah di kaki Suramadu kalau air sedang surut. Kita lihat pemukiman rapih pinggir rel kereta saat matahari terbit. Kita harus hunting lagi!” ujarnya ketika mengantar gue ke Gubeng.

000026 (1)
Kuncen kultur

Sial. Kapan lagi gue bisa menemukan waktu untuk plesiran kaya gini. Mungkin harus cuti sejenak untuk bisa puas jelajah, sampai gue tidak penasaran lagi dengan Surabaya. Sampai gue menemukan kota lain dimana gue meninggalkan keingintahuan gue untuk dijawab oleh orang lokal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: